Selasa, 13 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

200 Tewas dalam Serangan Udara di Tambang Emas Sudan Barat Laut

Serangan udara di wilayah pertambangan emas Sudan barat laut menewaskan lebih dari 200 orang, menyusul perintah penyelidikan oleh pemimpin militer Sudan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 12.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
200 Tewas dalam Serangan Udara di Tambang Emas Sudan Barat Laut📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Ketua Dewan Kedaulatan Transisi Sudan, Abdel Fattah Al-Burhan, telah memerintahkan pembentukan komisi investigasi menyusul serangan udara yang menewaskan lebih dari 200 penambang emas di kawasan dekat perbatasan Mesir. Komisi tersebut melibatkan elemen kejaksaan, kehakiman, dan keamanan untuk mengungkap kronologi dan menentukan tanggung jawab atas insiden yang terjadi pada Sabtu (10/10).

Menurut laporan dari media lokal, serangan terjadi di pagi hari di Distrik Shamal Al-Wadi, wilayah pertambangan emas yang padat penduduk. Ledakan menghancurkan struktur tempat berlindung dan lubang tambang yang sedang digunakan oleh para pekerja, menyebabkan korban tewas dalam jumlah besar. Korban selamat mengungkapkan bahwa serangan datang secara tiba-tiba tanpa peringatan, menghantam area yang padat penghuni.

Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, konteks konflik bersenjata yang berkepanjangan sejak 2023 antara pasukan pemerintah dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) menimbulkan kekhawatiran akan keterlibatan aktor militer dalam insiden ini. RSF diduga menerima dukungan dari pihak asing, yang memperkeruh dinamika keamanan di wilayah tersebut.

Pemerintah Sudan menegaskan komitmen untuk mengusut tuntas peristiwa memilukan ini guna menjamin keadilan dan mencegah kejadian serupa di masa depan. Proses investigasi diharapkan dapat memberikan kejelasan atas siapa yang bertanggung jawab, serta menjadi langkah awal dalam upaya pemulihan stabilitas di kawasan yang telah lama terganggu oleh ketegangan militer.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya