Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

250 Ribu Pelajar dan Guru Turun ke Jalan Tuntut Perbaikan Pendidikan Prancis

Lebih dari 250 ribu siswa, guru, dan orang tua melakukan aksi di berbagai kota Prancis untuk menuntut perbaikan fasilitas sekolah dan kebijakan pendidikan, yang berujung pada bentrokan dengan polisi dan penggunaan gas air mata.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 17.51 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
250 Ribu Pelajar dan Guru Turun ke Jalan Tuntut Perbaikan Pendidikan Prancis📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ribuan pelajar SMA, guru, serta orang tua dari berbagai wilayah Prancis turun ke jalan pada Selasa (6/10) untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kondisi pendidikan yang memburuk. Aksi yang berlangsung di kota-kota utama seperti Paris, Marseille, Lyon, Nantes, dan Bordeaux menjadi gelombang terbesar sejak protes bermula lebih dari dua pekan lalu. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 200 ribu orang mengikuti aksi, sementara penyelenggara menyebut jumlah peserta mencapai 450 ribu, dengan sekitar 56 ribu di antaranya berada di ibu kota.

Sebagian besar demonstrasi berjalan secara damai, namun terjadi kerusuhan di beberapa titik yang melibatkan pembakaran tempat sampah, vandalisme terhadap halte bus, serta pelemparan benda ke arah aparat keamanan. Polisi anti huru hara menggunakan gas air mata dan pentungan untuk membubarkan massa, menyebabkan hampir 500 orang ditangkap dan 43 personel kepolisian mengalami luka-luka. Sejak awal gelombang protes, tercatat 215 remaja dan 85 staf sekolah terluka, sementara 715 polisi dilaporkan mengalami cedera dalam berbagai bentrokan.

Tuntutan utama para demonstran mencakup penyelesaian absensi guru tanpa pengganti, perbaikan bangunan sekolah yang sudah tua, serta revisi jam belajar yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 18.00. Océanne, seorang siswi berusia 18 tahun dari Marseille, menyampaikan bahwa mereka hanya ingin menyelamatkan sistem pendidikan yang kini terancam runtuh. Di Paris, Anna, seorang pelajar lain, menegaskan bahwa tuntutan mereka sederhana: pendidikan yang layak, guru yang cukup, dan fasilitas sekolah yang memadai.

Kondisi memburuk secara signifikan, dengan lebih dari 900 sekolah menengah atas dilaporkan tutup atau diblokir pada hari aksi puncak. Sejumlah lembaga pendidikan bahkan memindahkan proses belajar mengajar ke sistem daring. Sejak pertengahan September, 24 sekolah dilaporkan dibakar atau dirusak, sementara lebih dari 6.100 orang telah ditangkap, sebagian besar di bawah umur. Lebih dari 1.800 kasus sedang dalam proses hukum, dengan 1.500 di antaranya merupakan anak di bawah 18 tahun.

Organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, menyoroti penggunaan kekuatan berlebihan oleh kepolisian, terutama dalam bentrokan yang menyebabkan cedera serius. Seorang remaja 15 tahun kehilangan tangan akibat ledakan di wilayah utara Prancis, sedangkan seorang remaja 16 tahun kehilangan penglihatan mata kanannya setelah mengalami cedera kepala di Tours. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, membantah tuduhan kekerasan berlebihan, menegaskan bahwa tindakan kepolisian proporsional, terutama saat situasi berubah menjadi kerusuhan, dan menyatakan telah membuka 10 penyelidikan internal atas dugaan kelalaian.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya