Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI Berpotensi Hancurkan Peradaban Manusia dalam Dekade

Para pemimpin teknologi dan ilmuwan memperingatkan risiko kepunahan manusia akibat kecerdasan buatan yang berkembang tanpa pengawasan, dengan estimasi ancaman mencapai lebih dari 10 persen dalam 10 tahun ke depan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 15.43 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
AI Berpotensi Hancurkan Peradaban Manusia dalam Dekade📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Para pakar kecerdasan buatan global kembali mengingatkan dunia akan potensi bencana besar yang bisa ditimbulkan oleh perkembangan teknologi yang tak terkendali. Dalam forum khusus di bawah naungan PBB, dua tokoh utama industri AI—Sam Altman dari OpenAI dan Dario Amodei dari Anthropic—menyampaikan keprihatinan serius terhadap arah pengembangan sistem AI yang mampu berpikir dan bertindak melebihi kapasitas manusia. Mereka menekankan bahwa tanpa regulasi ketat dan kerangka etika global, teknologi yang awalnya diciptakan untuk membantu justru bisa menjadi ancaman eksistensial.

Kemajuan AI yang terjadi dengan kecepatan luar biasa menurut Altman, membuat manusia kesulitan untuk mengejar perkembangannya. Dalam konteks itu, intervensi kritis menjadi semakin sulit, bahkan jika tanda bahaya sudah muncul. Amodei menegaskan bahwa risiko tidak bersifat spekulatif, melainkan realistis, terutama jika sistem AI mencapai tingkat kesadaran atau kemampuan yang mampu mengambil keputusan tanpa campur tangan manusia.

Perkiraan dari para peneliti internal Anthropic, termasuk Evan Hubinger, menunjukkan ada probabilitas lebih dari 10 persen bahwa AI bisa menjadi penyebab kepunahan manusia dalam waktu dekat—khususnya dalam rentang 10 tahun ke depan. Pendapat ini diperkuat oleh Nate Soares, pemimpin lembaga riset kecerdasan mesin, yang menyatakan bahwa ketika AI mencapai tingkat superhuman, kemampuan kontrol manusia akan runtuh secara total. Ia menekankan bahwa keberadaan AI yang lebih cerdas dari manusia secara otomatis membawa risiko yang tidak dapat diprediksi.

Kekhawatiran ini bukan sekadar narasi fiksi ilmiah. Sejak era Alan Turing di tahun 1950-an, telah ada peringatan bahwa mesin yang mampu belajar dan beradaptasi bisa keluar dari kendali penciptanya. Kini, dengan kemajuan teknologi yang jauh melampaui ekspektasi awal, kekhawatiran itu menjadi lebih nyata. Para pemimpin politik, media, dan tokoh publik mulai menyadari urgensi untuk membentuk kerangka regulasi global sebelum terlambat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya