AI Berpotensi Hancurkan Peradaban Manusia dalam Dekade
Para pemimpin teknologi dan ilmuwan memperingatkan risiko kepunahan manusia akibat kecerdasan buatan yang berkembang tanpa pengawasan, dengan estimasi ancaman mencapai lebih dari 10 persen dalam 10 tahun ke depan.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 15.43 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Para pakar kecerdasan buatan global kembali mengingatkan dunia akan potensi bencana besar yang bisa ditimbulkan oleh perkembangan teknologi yang tak terkendali. Dalam forum khusus di bawah naungan PBB, dua tokoh utama industri AI—Sam Altman dari OpenAI dan Dario Amodei dari Anthropic—menyampaikan keprihatinan serius terhadap arah pengembangan sistem AI yang mampu berpikir dan bertindak melebihi kapasitas manusia. Mereka menekankan bahwa tanpa regulasi ketat dan kerangka etika global, teknologi yang awalnya diciptakan untuk membantu justru bisa menjadi ancaman eksistensial.
Kemajuan AI yang terjadi dengan kecepatan luar biasa menurut Altman, membuat manusia kesulitan untuk mengejar perkembangannya. Dalam konteks itu, intervensi kritis menjadi semakin sulit, bahkan jika tanda bahaya sudah muncul. Amodei menegaskan bahwa risiko tidak bersifat spekulatif, melainkan realistis, terutama jika sistem AI mencapai tingkat kesadaran atau kemampuan yang mampu mengambil keputusan tanpa campur tangan manusia.
Perkiraan dari para peneliti internal Anthropic, termasuk Evan Hubinger, menunjukkan ada probabilitas lebih dari 10 persen bahwa AI bisa menjadi penyebab kepunahan manusia dalam waktu dekat—khususnya dalam rentang 10 tahun ke depan. Pendapat ini diperkuat oleh Nate Soares, pemimpin lembaga riset kecerdasan mesin, yang menyatakan bahwa ketika AI mencapai tingkat superhuman, kemampuan kontrol manusia akan runtuh secara total. Ia menekankan bahwa keberadaan AI yang lebih cerdas dari manusia secara otomatis membawa risiko yang tidak dapat diprediksi.
Kekhawatiran ini bukan sekadar narasi fiksi ilmiah. Sejak era Alan Turing di tahun 1950-an, telah ada peringatan bahwa mesin yang mampu belajar dan beradaptasi bisa keluar dari kendali penciptanya. Kini, dengan kemajuan teknologi yang jauh melampaui ekspektasi awal, kekhawatiran itu menjadi lebih nyata. Para pemimpin politik, media, dan tokoh publik mulai menyadari urgensi untuk membentuk kerangka regulasi global sebelum terlambat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Indonesia Siap Terapkan B50, Tapi Tantangan Distribusi dan Teknologi Masih Menghambat
Penerapan biodiesel B50 berbasis sawit di Indonesia dinilai teknis sudah layak, namun kendala distribusi dan adaptasi mesin kendaraan masih menjadi penghambat utama.
30 September 2026

Googlebook OS Gantikan Chrome OS Mulai 2027
Google memperkenalkan Googlebook OS sebagai pengganti Chrome OS, dengan dukungan pembaruan hingga masa berlaku perangkat tetap berjalan.
30 September 2026

Profiling ASN Nasional Segera Capai 600.000 Pegawai
BKN menyelesaikan pemetaan potensi 600.000 aparatur sipil negara secara gratis dan bertahap untuk mendukung pengembangan talenta berbasis data.
30 September 2026

Googlebook Diluncurkan, Tapi Kecolongan di Pencarian
Peluncuran laptop baru berbasis Gemini Intelligence oleh Google mengalami kendala teknis karena nama produk tumpang tindih dengan layanan Google Books, mengganggu akses pengguna.
30 September 2026
Berita Lainnya

Wajib Sertifikat Halal 18 Oktober 2026, Produk Berbahan Haram Wajib Tandai "Non Halal
Rabu, 30 September 2026, 17.45 WITA

Pemerintah Atur Penggunaan Anak Usaha Tambang untuk Dukung Ekonomi Lokal
Rabu, 30 September 2026, 17.45 WITA

OJK Resmi Bubarkan Dana Pensiun BASF Indonesia
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

Astra Graphia Siap Bagi Dividen Rp297 per Saham
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.870/US$ di Akhir September
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

BI Perkuat Stabilitas Rupiah Lewat Kebijakan Strategis
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

Telkom Lanjutkan Transformasi dengan Pemisahan Infrastruktur
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

Rupiah Pulih, Kurs Dolar Menurun dari Puncak Rp18.300
Rabu, 30 September 2026, 17.44 WITA

