Senin, 12 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI Ciptakan Nostalgia 1980-an, Tapi Waspadai Risiko Privasi

Penggunaan AI untuk mengubah foto selfie jadi gaya tahun 1980-an menyebar luas, namun pakar memperingatkan risiko kebocoran data pribadi dan biometrik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 21.09 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
AI Ciptakan Nostalgia 1980-an, Tapi Waspadai Risiko Privasi📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Tren mengubah foto diri menjadi potret bergaya 1980-an melalui platform berbasis kecerdasan buatan kini menjadi fenomena global. Dengan hanya mengunggah gambar wajah, pengguna mampu menghasilkan visual retro yang menyerupai dokumentasi foto klasik era itu—dengan gaya rambut mengembang, warna neon, dan latar belakang studio. Popularitasnya melonjak di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X, menunjukkan bagaimana teknologi AI generatif kini menjadi bagian dari budaya digital sehari-hari.

Namun, di balik keseruan nostalgia yang dihasilkan, para ahli etika dan keamanan digital mengingatkan bahwa setiap interaksi dengan AI seperti ini membawa konsekuensi privasi yang serius. Ketika pengguna mengunggah foto, mereka tidak hanya membagikan gambar wajah, tetapi juga metadata seperti lokasi, serta data biometrik yang bersifat unik dan permanen. Menurut pakar filsafat etika AI dari University of Oxford, Carissa Véliz, informasi semacam ini jauh lebih sensitif daripada kata sandi, karena tidak bisa diganti jika bocor.

Perusahaan teknologi yang mengembangkan AI seperti OpenAI menyatakan bahwa privasi dan kepercayaan merupakan prinsip dasar dalam pengembangan produk mereka. Mereka menawarkan fitur seperti mode percakapan sementara yang tidak menyimpan data, serta opsi untuk menghapus riwayat interaksi. Namun, para pakar tetap menekankan bahwa risiko tetap ada, terutama ketika data yang dikumpulkan hari ini digunakan untuk melatih model AI di masa depan, bahkan tanpa kesadaran pengguna.

Fenomena ini disebut sebagai "hiburan dengan imbalan data" oleh Catarina Doria, ahli etika AI, di mana pengguna secara sukarela menyerahkan informasi pribadi demi hiburan singkat. Dengan kombinasi foto, riwayat percakapan, dan preferensi pribadi, profil digital seseorang bisa dibangun secara sangat rinci. Hal ini membuka peluang besar bagi penargetan iklan yang sangat presisi, serta risiko manipulasi lebih lanjut seperti deepfake yang semakin sulit dibedakan dari realitas.

Pakar menyarankan agar pengguna lebih selektif dalam membagikan data, terutama saat mengunggah gambar anak-anak atau foto beresolusi tinggi. Mereka juga menyarankan penggunaan foto dengan kualitas lebih rendah jika tidak diperlukan untuk tujuan khusus. Kuncinya bukan menolak teknologi, melainkan memahami bahwa setiap interaksi digital memiliki dampak jangka panjang yang perlu dipertimbangkan secara bijak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya