Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI dan Ekonomi Digital Jadi Mesin Pertumbuhan Nasional

Pemerintah menegaskan kecerdasan buatan dan ekonomi digital sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi, dengan target tumbuh hingga 8 persen pada 2029.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 17.55 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 58x dibuka
AI dan Ekonomi Digital Jadi Mesin Pertumbuhan Nasional📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah mengidentifikasi kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital sebagai pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Dalam forum digital bertajuk AI Impact Summit 2026, Menko Perekonomian menyampaikan bahwa kedua domain tersebut bukan sekadar tren teknologi, melainkan fondasi baru bagi transformasi struktural ekonomi. Di tengah tantangan global, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat, mencapai 5,45 persen pada semester pertama 2026, sejalan dengan target nasional untuk menembus 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027 dan melonjak hingga 8 persen pada 2029.

Proyeksi ekonomi digital Indonesia saat ini berada di kisaran 100 hingga 140 miliar dolar AS, sementara skala ekonomi AI diperkirakan melonjak menjadi 360 hingga 400 miliar dolar AS pada 2030. Angka ini menggambarkan potensi besar yang harus dimanfaatkan secara optimal. Pemerintah menekankan bahwa keberhasilan transformasi tidak bergantung pada pendekatan top-down semata, melainkan pada eksekusi strategi yang memberi dampak nyata di sektor riil, termasuk peningkatan produktivitas, daya saing industri, dan penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Untuk mewujudkan hal tersebut, empat pilar utama telah ditetapkan. Pertama, penguatan infrastruktur digital dan ketahanan energi nasional, termasuk peningkatan kapasitas pusat data dari 0,25 hingga 0,58 GW, dengan rencana penambahan hampir 60–70 GWh melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dan program energi surya puncak 100 GWh. Kedua, penyiapan 9 juta talenta digital hingga 2030 melalui pendidikan, beasiswa, dan insentif pajak hingga 200 persen.

Ketiga, percepatan adopsi AI dengan memanfaatkan 229 juta pengguna internet dan 22 juta UMKM digital di seluruh wilayah. Penerapan AI diarahkan pada peningkatan efisiensi rantai pasok manufaktur, layanan publik seperti OSS, logistik, perpajakan, kesehatan, serta pengembangan kawasan industri. Keempat, tata kelola dan kolaborasi global, termasuk posisi Indonesia sebagai pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization yang berpotensi menarik investasi baru senilai 8 hingga 12 miliar dolar AS.

Melalui inisiatif seperti AI.ID, Korika Claw, dan Korika Token, pemerintah juga memperkuat kedaulatan teknologi dengan tetap terbuka terhadap inovasi dan kemitraan internasional. Menko Perekonomian menegaskan bahwa kedaulatan bukan berarti isolasi, melainkan penguatan talenta, data, infrastruktur, dan teknologi lokal, sekaligus membuka ruang bagi kolaborasi global. Dengan langkah strategis ini, pemerintah menargetkan terwujudnya Indonesia Emas 2045 berbasis AI yang berdaya saing tinggi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan melayani masyarakat secara lebih efisien.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya