Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI dan Konsumsi Air: Fakta di Balik Anggapan Boros

Penggunaan chatbot AI memang melibatkan konsumsi air, tetapi tidak sebesar yang diperkirakan, terutama karena ketergantungan pada pendinginan pusat data dan sumber listrik, bukan langsung dari setiap pertanyaan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 17.39 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 11x dibuka
AI dan Konsumsi Air: Fakta di Balik Anggapan Boros📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan kini meluas di berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan hingga pendukung kreativitas. Di balik kemudahan akses tersebut tersembunyi infrastruktur teknologi yang kompleks, termasuk pusat data berkapasitas tinggi. Salah satu sumber daya yang menjadi bagian dari operasional ini adalah air, yang digunakan terutama untuk sistem pendinginan perangkat keras yang menghasilkan panas saat beroperasi. Namun, konsumsi air tidak bersifat langsung atau proporsional terhadap setiap interaksi pengguna.

Penggunaan air dalam ekosistem AI terjadi secara tidak langsung, baik melalui pendinginan server maupun produksi listrik yang menopang operasional pusat data. Berdasarkan estimasi tahun 2023, total konsumsi air oleh pusat data global mencapai sekitar 560 miliar liter, dengan sekitar 373 miliar liter berasal dari pembangkitan energi dan 140 miliar liter dari penggunaan langsung di fasilitas itu sendiri. Angka ini mencerminkan konsumsi keseluruhan, bukan per interaksi chatbot. Oleh karena itu, menyamakan penggunaan air per pertanyaan AI dengan angka global merupakan generalisasi yang keliru.

Perusahaan teknologi seperti Google dan Microsoft telah mengukur dan melaporkan efisiensi penggunaan air secara spesifik. Google, misalnya, menyebutkan bahwa satu permintaan teks pada layanan Gemini Apps pada Mei 2025 membutuhkan sekitar 0,26 mililiter air, menggabungkan konsumsi energi dan air pusat data. Angka ini merupakan hasil pengukuran berbasis metode tertentu dan tidak berlaku universal. Perbedaan teknologi pendingin, lokasi geografis, serta sumber listrik masing-masing pusat data turut menentukan besaran konsumsi air yang terjadi.

Tren pertumbuhan penggunaan AI terus meningkat, dengan konsumsi listrik pusat data global naik 17 persen pada 2025, dan khusus untuk AI mencapai 50 persen. IEA memproyeksikan konsumsi listrik pusat data secara keseluruhan akan meningkat dari 485 terawatt-jam pada 2025 menjadi sekitar 950 terawatt-jam pada 2030. Meskipun efisiensi teknologi terus ditingkatkan, pertumbuhan jumlah pengguna dan ekspansi infrastruktur tetap menjadi tantangan lingkungan yang harus dikelola secara menyeluruh.

Perusahaan besar telah memperkenalkan inovasi untuk mengurangi ketergantungan air, seperti teknologi pendinginan berbasis udara dan sistem pengelolaan air yang lebih efisien. Microsoft melaporkan penurunan rata-rata penggunaan air per kilowatt-jam dari 2,3 liter menjadi 0,27 liter pada 2025. Google juga menyebutkan upaya pengisian kembali air sekitar 7,7 miliar galon pada 2025, setara dengan 78 persen dari total konsumsi air tawar. Dengan demikian, meski chatbot AI memiliki jejak air, dampaknya tidak seragam dan terus dikelola secara proaktif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya