Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI dan Kreativitas Manusia dalam Arsitektur Masa Depan

Diskusi daring mengungkap peran kecerdasan buatan sebagai alat pendukung, bukan pengganti, dalam inovasi arsitektur berbasis batu alam dan desain kreatif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 15.37 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
AI dan Kreativitas Manusia dalam Arsitektur Masa Depan📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menawarkan transformasi signifikan dalam dunia arsitektur, namun tetap tidak menggantikan esensi kemanusiaan dalam proses kreatif. Dalam forum diskusi daring, Peter S Tjioe, pemimpin kreatif MM Galleri Group, menegaskan bahwa meskipun teknologi mampu mempercepat visualisasi dan eksplorasi konsep, karya arsitektur yang berkesan tetap membutuhkan jiwa, rasa estetika, dan nilai artistik yang hanya muncul dari manusia. Ia menekankan bahwa AI adalah alat, bukan pengganti, dalam menjawab tantangan desain modern.

Pengalaman panjang MM Galleri dalam pengolahan batu alam sejak 1992 menjadi fondasi bagi inovasi material seperti batu ultra-tipis dan teknologi marmer melengkung. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana teknologi dan kreativitas manusia bisa berjalan beriringan. Peter menekankan bahwa mewujudkan desain digital menjadi karya fisik memerlukan keahlian tinggi, kepekaan terhadap material, serta sentuhan tangan yang tidak bisa digantikan oleh otomasi.

Dari sisi praktik desain, Tim Fu, pendiri Studio Tim Fu di London, menyatakan bahwa AI digunakan sebagai alat pendukung dalam tahap eksplorasi dan penyempurnaan desain. Teknologi membantu mempercepat iterasi, tetapi keputusan akhir mengenai konsep, fungsi, konteks, serta pilihan material tetap ditentukan oleh manusia. Ia melihat potensi besar dari integrasi AI dengan robotik dan fabrikasi digital, terutama dalam mengeksplorasi bentuk-bentuk kompleks yang sebelumnya sulit direalisasikan.

Mario Wibowo, fotografer arsitektur yang turut hadir, menilai bahwa otomasi dan AI akan semakin merambah berbagai tahapan proses arsitektur—mulai dari konsep hingga konstruksi. Namun, ia menegaskan bahwa arsitek tidak akan tergantikan. Justru, keberadaan AI memaksa profesional desain untuk lebih aktif dalam mengarahkan teknologi agar menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Sensitivitas terhadap preferensi individu, intuisi, dan pemahaman kontekstual tetap menjadi keunggulan tak tergantikan manusia.

Pada akhirnya, diskusi menegaskan bahwa masa depan arsitektur bukan tentang konfrontasi antara manusia dan mesin, melainkan tentang kolaborasi yang harmonis. AI mampu memberikan alternatif tak terbatas, tetapi hanya manusia yang bisa menilai relevansi, kemanusiaan, dan kebermaknaan dari sebuah desain. Keberhasilan proyek masa depan tergantung pada kemampuan menggabungkan kecepatan teknologi dengan kepekaan kreatif yang hanya dimiliki manusia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya