AI dan Pusat Data Dorong Kebutuhan Energi Ekstrem
Perkembangan kecerdasan buatan dan infrastruktur data center menimbulkan kekhawatiran global terhadap lonjakan konsumsi energi dan dampak lingkungan di tengah krisis iklim yang semakin memburuk.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 21.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Dalam ajang New York Climate Week 2026, isu keberlanjutan mendapat sorotan khusus, terutama mengenai pertumbuhan pesat teknologi kecerdasan buatan yang disertai lonjakan permintaan listrik. Fasilitas data center, yang menjadi tulang punggung AI, kini diketahui menjadi konsumen energi tak terduga, menimbulkan pertanyaan serius tentang kelayakan jangka panjang model digitalisasi saat bumi semakin dekat pada ambang batas ekologis. Para pemimpin global, termasuk pejabat tinggi pemerintah dan eksekutif korporasi, memperkenalkan diskusi mendalam tentang bagaimana transisi energi harus diprioritaskan sebagai bagian dari kebijakan keamanan nasional, bukan sekadar isu lingkungan semata.
Laporan terbaru dari Potsdam Institute for Climate Impact Research menegaskan bahwa dunia telah melampaui tujuh dari sembilan batas planet yang ditentukan secara ilmiah untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Johan Rockström, direktur lembaga tersebut, menyatakan bahwa kondisi bumi saat ini menyerupai pasien yang mengalami gejala kritis. Ia menekankan bahwa tindakan mendesak diperlukan untuk mencegah kerusakan tak terbalik yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia dan ekosistem global.
Kekhawatiran semakin menguat seiring dengan meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi yang intensif energi, termasuk sistem AI yang membutuhkan sumber daya listrik dan air dalam jumlah besar. Simon Stiell, Kepala Bidang Iklim PBB, memperingatkan bahwa penggunaan energi fosil untuk mendukung infrastruktur digital justru mempercepat pemanasan global dan menaikkan beban biaya energi bagi masyarakat. Di sisi lain, para pelaku industri menyadari tantangan ini dan mulai bergerak cepat. Eva Riesenhuber dari Siemens menegaskan bahwa AI bukan ancaman, melainkan alat krusial dalam merancang solusi iklim berkelanjutan.
Perkembangan teknologi pun menunjukkan harapan. Evelyn Wang dari MIT memproyeksikan bahwa dalam lima tahun ke depan, pusat data bisa mencapai netralitas air, dan dalam satu dekade, tidak lagi menjadi sumber emisi rumah kaca. Dengan inovasi dan kebijakan yang tepat, transformasi ini diproyeksikan mampu mengubah paradigma dari konsumsi ekstrem menjadi model berkelanjutan. Aksi protes dan perdebatan publik pun diprediksi akan terus berlangsung sepanjang minggu iklim, sebagai bentuk tekanan terhadap keberlanjutan digital global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Huang Bantah Isu Kiamat AI: Tidak Ada Bukti Ilmiah
CEO Nvidia, Jensen Huang, menolak anggapan bahwa kecerdasan buatan akan mengancam kelangsungan manusia sebelum 2030, menyebut prediksi tersebut tidak berdasar dan berpotensi menakut-nakuti publik secara tidak bertanggung jawab.
23 September 2026

70 Juta Anak Indonesia Harus Terlindungi dari Dampak AI
Menteri Komunikasi dan Digital menegaskan perlindungan 70 juta anak Indonesia dari risiko kecerdasan buatan dalam forum PBB, menekankan kolaborasi global untuk menjaga hak dan keselamatan anak di era digital.
23 September 2026

DPD RI Dorong RUU Kecerdasan Buatan dengan Kolaborasi Lembaga Terkemuka
DPD RI menginisiasi penyusunan RUU Kecerdasan Buatan bersama BRIN dan ICMI untuk memastikan regulasi yang menjaga keseimbangan antara inovasi dan keamanan sosial.
23 September 2026

Manajer Koperasi Desa Ditetapkan sebagai Pegawai BUMN dengan Kontrak Dua Tahun
Manajer Koperasi Desa Merah Putih resmi menjadi pegawai BUMN melalui PT Agrinas Pangan Nusantara dengan kontrak waktu tertentu selama dua tahun.
23 September 2026
Berita Lainnya

Mantan Anggota Polri Divonis Hukuman Mati atas Pembunuhan Mahasiswi
Rabu, 23 September 2026, 21.30 WITA

Menteri Imipas Pastikan Pembebasan Bechi Dicabut Jika Mengancam Korban
Rabu, 23 September 2026, 21.29 WITA

Rekayasa Lalu Lintas Siap Diterapkan untuk Antisipasi Aksi 24 September
Rabu, 23 September 2026, 21.29 WITA

KPU Tegaskan Pemohon PHPU Tak Punya Kedudukan Hukum
Rabu, 23 September 2026, 21.29 WITA

Akses Pasar Jadi Penghambat Utama Perluasan UMKM
Rabu, 23 September 2026, 21.28 WITA

Forum Bisnis ANTARA Bahas Transformasi Ekonomi 2035
Rabu, 23 September 2026, 21.28 WITA

Anggota DPR Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Asusila Santri di Lombok Tengah
Rabu, 23 September 2026, 21.28 WITA

Sekolah Rakyat Capai 182 Titik Operasional
Rabu, 23 September 2026, 21.28 WITA

