AI Dorong Ledakan Microdrama di China, Produsen Tantang Kreativitas
Industri microdrama berbasis AI di China melonjak, dengan lebih dari 90 persen dari 430 ribu konten daring dalam delapan bulan pertama tahun ini dibuat menggunakan teknologi buatan, tetapi tantangan kreativitas dan kejenuhan penonton muncul akibat pola cerita yang berulang.
Redaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pertumbuhan pesat microdrama berbasis kecerdasan buatan di China kini menjadi sorotan global, seiring dengan dominasi teknologi dalam produksi konten hiburan pendek. Dalam delapan bulan pertama tahun ini, lebih dari 90 persen dari 430 ribu serial mikro yang diluncurkan secara daring dibuat menggunakan AI, menunjukkan transformasi signifikan dalam industri hiburan. Salah satu contoh nyata adalah karya NetEase yang memperkenalkan kembali tokoh ikonik aktris Joey Wong melalui rekonstruksi digital, termasuk perannya sebagai hantu cantik dalam *A Chinese Ghost Story* dan siluman ular dalam *Green Snake*, yang kembali hidup melalui simulasi berbasis AI setelah lebih dari dua dekade tidak muncul di layar.
Kemampuan AI memungkinkan adaptasi cerita imajinatif dari novel daring yang sebelumnya sulit diwujudkan karena biaya produksi tinggi, terutama untuk efek visual dan set mewah. Produser dari platform distribusi drama komik AI di Shenzhen, Bai Jianyue, menegaskan bahwa teknologi ini membuka akses besar bagi karya-karya yang sebelumnya dianggap tidak layak diproduksi secara live action. Dengan AI, dunia fantasi dan aksi kompleks dalam novel populer bisa direalisasikan dengan efisiensi dan kreativitas tinggi, sehingga memperluas jangkauan karya sastra digital ke layar.
Namun, tren produksi masif berbasis AI justru menimbulkan kejenuhan di kalangan penonton. Banyak pengguna menyebutkan bahwa banyak serial berakhir dengan pola cerita yang seragam, di mana satu episode sukses langsung ditiru dengan perubahan kecil seperti ganti dinasti atau jenis kelamin tokoh. Seorang pengguna RedNote, Liulang de Mao, mengkritik bahwa penonton kini sering bisa menebak alur akhir cerita hanya dari awal episode. Hal ini membuat produsen menghadapi tekanan besar untuk tidak hanya menghasilkan konten, tetapi juga menjaga konsistensi narasi, karakter, dan kualitas penyutradaraan selama rangkaian episode.
Di tengah dinamika tersebut, otoritas penyiaran China mulai mendorong keseimbangan antara produksi AI dan konten live action. Regulator menyerukan penyediaan ruang khusus bagi produksi live action dan dukungan finansial dari platform besar, termasuk ByteDance dan Kuaishou Technology, yang berkomitmen menyalurkan setidaknya 6 miliar yuan (sekitar US$894 juta) untuk mendukung karya berkualitas tinggi. Selain itu, aturan baru mulai berlaku, mewajibkan setiap episode AI mencantumkan label identifikasi dan memerlukan izin sebelum menggunakan wajah atau suara orang nyata.
Produsen seperti Zhou Xiangxiang dari Moli OPC AI Comic Drama Base telah mulai menerapkan sistem lisensi terhadap wajah staf dan menandatangani perjanjian dengan pemain untuk pembuatan karakter digital. Meski biaya produksi sedikit meningkat, langkah ini dinilai efektif dalam menghindari penundaan rilis akibat peninjauan platform. Meski demikian, perusahaan tetap melanjutkan kontrak tahunan dengan platform tanpa perubahan signifikan, menunjukkan bahwa pasar masih terbuka bagi konten AI selama tetap mempertimbangkan aspek hukum dan kualitas.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

AI Picu Kekacauan Pemilu di Asia Tenggara, Peringatan dari Pakar
Laporan terbaru mengungkap penggunaan kecerdasan buatan untuk menyebarkan disinformasi massal dalam konteks pemilu di Malaysia, mengancam stabilitas demokrasi kawasan.
5 Oktober 2026

Prabowo Soroti Ancaman Siber dan Disinformasi di HUT TNI ke-81
Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia kini menghadapi ancaman tak hanya fisik, tetapi juga siber dan disinformasi yang bertujuan memecah belah bangsa.
5 Oktober 2026

Robot Humanoid AI Siap Ditempatkan di Lapangan 2028
Singapura menargetkan penggunaan robot humanoid berbasis AI untuk mendukung operasional keamanan publik mulai 2028 melalui pusat pengembangan khusus di One-North.
5 Oktober 2026

Ben Affleck Soroti Etika Penggunaan AI dalam Sinema
Aktor dan sutradara Ben Affleck menegaskan pendekatan etis dalam pemanfaatan kecerdasan buatan di industri film, dengan menekankan perlindungan hak kreator dan kualitas karya manusiawi.
4 Oktober 2026
Berita Lainnya

Harga Mobil Hybrid di Indonesia Per Oktober 2026 Terkini
Senin, 5 Oktober 2026, 15.37 WITA

Lima PO Bus Paling Banyak Melanggar, Ini Jenis Pelanggarannya
Senin, 5 Oktober 2026, 15.37 WITA

Aturan Kuota Sisa Diperdebatkan, ATSI Minta Jelas ke Kementerian
Senin, 5 Oktober 2026, 15.34 WITA

China Tutup 670 Bank, Fokus Perkuat Sistem Keuangan
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

Prabowo Pimpin Upacara HUT TNI ke-81 di Cilangkap
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

Harga BBM Subsidi Tetap, Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

26 Negara Bagian Gugat Trump Soal Penurunan Standar Kendaraan
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

KKP Amankan Kapal Ikan Diduga Terkait Penganiayaan Awak Kapal
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

