Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI Dorong Ledakan Microdrama di China, Produsen Tantang Kreativitas

Industri microdrama berbasis AI di China melonjak, dengan lebih dari 90 persen dari 430 ribu konten daring dalam delapan bulan pertama tahun ini dibuat menggunakan teknologi buatan, tetapi tantangan kreativitas dan kejenuhan penonton muncul akibat pola cerita yang berulang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
AI Dorong Ledakan Microdrama di China, Produsen Tantang Kreativitas📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan pesat microdrama berbasis kecerdasan buatan di China kini menjadi sorotan global, seiring dengan dominasi teknologi dalam produksi konten hiburan pendek. Dalam delapan bulan pertama tahun ini, lebih dari 90 persen dari 430 ribu serial mikro yang diluncurkan secara daring dibuat menggunakan AI, menunjukkan transformasi signifikan dalam industri hiburan. Salah satu contoh nyata adalah karya NetEase yang memperkenalkan kembali tokoh ikonik aktris Joey Wong melalui rekonstruksi digital, termasuk perannya sebagai hantu cantik dalam *A Chinese Ghost Story* dan siluman ular dalam *Green Snake*, yang kembali hidup melalui simulasi berbasis AI setelah lebih dari dua dekade tidak muncul di layar.

Kemampuan AI memungkinkan adaptasi cerita imajinatif dari novel daring yang sebelumnya sulit diwujudkan karena biaya produksi tinggi, terutama untuk efek visual dan set mewah. Produser dari platform distribusi drama komik AI di Shenzhen, Bai Jianyue, menegaskan bahwa teknologi ini membuka akses besar bagi karya-karya yang sebelumnya dianggap tidak layak diproduksi secara live action. Dengan AI, dunia fantasi dan aksi kompleks dalam novel populer bisa direalisasikan dengan efisiensi dan kreativitas tinggi, sehingga memperluas jangkauan karya sastra digital ke layar.

Namun, tren produksi masif berbasis AI justru menimbulkan kejenuhan di kalangan penonton. Banyak pengguna menyebutkan bahwa banyak serial berakhir dengan pola cerita yang seragam, di mana satu episode sukses langsung ditiru dengan perubahan kecil seperti ganti dinasti atau jenis kelamin tokoh. Seorang pengguna RedNote, Liulang de Mao, mengkritik bahwa penonton kini sering bisa menebak alur akhir cerita hanya dari awal episode. Hal ini membuat produsen menghadapi tekanan besar untuk tidak hanya menghasilkan konten, tetapi juga menjaga konsistensi narasi, karakter, dan kualitas penyutradaraan selama rangkaian episode.

Di tengah dinamika tersebut, otoritas penyiaran China mulai mendorong keseimbangan antara produksi AI dan konten live action. Regulator menyerukan penyediaan ruang khusus bagi produksi live action dan dukungan finansial dari platform besar, termasuk ByteDance dan Kuaishou Technology, yang berkomitmen menyalurkan setidaknya 6 miliar yuan (sekitar US$894 juta) untuk mendukung karya berkualitas tinggi. Selain itu, aturan baru mulai berlaku, mewajibkan setiap episode AI mencantumkan label identifikasi dan memerlukan izin sebelum menggunakan wajah atau suara orang nyata.

Produsen seperti Zhou Xiangxiang dari Moli OPC AI Comic Drama Base telah mulai menerapkan sistem lisensi terhadap wajah staf dan menandatangani perjanjian dengan pemain untuk pembuatan karakter digital. Meski biaya produksi sedikit meningkat, langkah ini dinilai efektif dalam menghindari penundaan rilis akibat peninjauan platform. Meski demikian, perusahaan tetap melanjutkan kontrak tahunan dengan platform tanpa perubahan signifikan, menunjukkan bahwa pasar masih terbuka bagi konten AI selama tetap mempertimbangkan aspek hukum dan kualitas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya