AI Picu Kekacauan Pemilu di Asia Tenggara, Peringatan dari Pakar
Laporan terbaru mengungkap penggunaan kecerdasan buatan untuk menyebarkan disinformasi massal dalam konteks pemilu di Malaysia, mengancam stabilitas demokrasi kawasan.
Redaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 15.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Teknologi kecerdasan buatan kini menjadi alat baru yang berpotensi mengganggu integritas proses demokrasi di Asia Tenggara, sebagaimana dikhawatirkan oleh para ahli. Sebuah temuan terbaru menunjukkan bahwa model AI seperti Claude telah dimanfaatkan untuk menciptakan dan menyebarkan berita palsu secara sistematis di Malaysia. Dalam praktiknya, kelompok tertentu menggunakan sekitar seribu akun di platform X, dilengkapi dengan portal berita fiktif bernama "Malaysia Pulse", serta dokumen manipulatif yang disusun secara masif untuk memengaruhi opini publik.
Strategi ini didukung dengan data pemilih dari 222 daerah pemilihan parlemen Malaysia, yang digunakan untuk menargetkan calon pemilih di negara tetangga, termasuk Indonesia. Konten yang diproduksi cenderung memanfaatkan isu sensitif seperti SARA, memicu polarisasi dan memperdalam perpecahan sosial. Menurut Bridget Welsh dari University of Nottingham Asia Research Institute Malaysia, fenomena ini bukan sekadar kebohongan digital, melainkan bentuk manipulasi yang sengaja dirancang untuk menggoyahkan kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi.
Laporan dari Anthropic juga mengungkap bahwa media palsu tersebut mengambil berita dari sumber resmi Malaysia, lalu mengubahnya berulang kali dengan bantuan AI agar terlihat otoritatif, meski tanpa sumber yang jelas. Bahkan, ada indikasi penggunaan konten dari media asing yang diasosiasikan dengan negara seperti Rusia dan Tiongkok—seperti TV BRICS, Xinhua, Sputnik/RIA, dan CGTN—tanpa atribusi. Meski akun-akun tersebut akhirnya dibekukan setelah intervensi Anthropic, kekhawatiran terhadap penggunaan AI dalam kampanye politik tetap tinggi.
Pengamat menilai bahwa wilayah Asia Tenggara sangat rentan karena tingkat penetrasi media sosial yang tinggi dan keberadaan ekosistem informasi yang seringkali tidak transparan. Maria Ressa, penerima Nobel, menegaskan bahwa kawasan ini telah lama menjadi laboratorium uji coba teknik propaganda yang kemudian dikembangkan dan digunakan di negara-negara Barat. Di masa depan, pemilu di Malaysia (2027), Filipina dan Kamboja (2028), serta Indonesia (2029) diperkirakan akan semakin terancam oleh manipulasi digital yang diperkuat oleh AI.
Ben Loh dari Monash University Malaysia menekankan bahwa AI tidak hanya mempercepat penyebaran konten, tetapi juga memperkuat bias yang sudah ada dalam masyarakat, seperti kebencian terhadap kelompok tertentu, seperti pengungsi Rohingya. Menurut Katie Harbath dari Anchor Change, AI memungkinkan penyebaran informasi palsu secara personal, cepat, dan murah, sehingga sulit dilacak dan dikendalikan. Dalam jangka panjang, jika ekosistem informasi dipenuhi oleh konten fiktif, bahkan model bahasa besar pun bisa terkontaminasi, menciptakan lingkaran setan informasi yang merusak kebenaran.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

AI Dorong Ledakan Microdrama di China, Produsen Tantang Kreativitas
Industri microdrama berbasis AI di China melonjak, dengan lebih dari 90 persen dari 430 ribu konten daring dalam delapan bulan pertama tahun ini dibuat menggunakan teknologi buatan, tetapi tantangan kreativitas dan kejenuhan penonton muncul akibat pola cerita yang berulang.
5 Oktober 2026

Prabowo Soroti Ancaman Siber dan Disinformasi di HUT TNI ke-81
Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia kini menghadapi ancaman tak hanya fisik, tetapi juga siber dan disinformasi yang bertujuan memecah belah bangsa.
5 Oktober 2026

Robot Humanoid AI Siap Ditempatkan di Lapangan 2028
Singapura menargetkan penggunaan robot humanoid berbasis AI untuk mendukung operasional keamanan publik mulai 2028 melalui pusat pengembangan khusus di One-North.
5 Oktober 2026

Ben Affleck Soroti Etika Penggunaan AI dalam Sinema
Aktor dan sutradara Ben Affleck menegaskan pendekatan etis dalam pemanfaatan kecerdasan buatan di industri film, dengan menekankan perlindungan hak kreator dan kualitas karya manusiawi.
4 Oktober 2026
Berita Lainnya

Harga Mobil Hybrid di Indonesia Per Oktober 2026 Terkini
Senin, 5 Oktober 2026, 15.37 WITA

Lima PO Bus Paling Banyak Melanggar, Ini Jenis Pelanggarannya
Senin, 5 Oktober 2026, 15.37 WITA

Aturan Kuota Sisa Diperdebatkan, ATSI Minta Jelas ke Kementerian
Senin, 5 Oktober 2026, 15.34 WITA

China Tutup 670 Bank, Fokus Perkuat Sistem Keuangan
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

Prabowo Pimpin Upacara HUT TNI ke-81 di Cilangkap
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

Harga BBM Subsidi Tetap, Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

26 Negara Bagian Gugat Trump Soal Penurunan Standar Kendaraan
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

KKP Amankan Kapal Ikan Diduga Terkait Penganiayaan Awak Kapal
Senin, 5 Oktober 2026, 15.29 WITA

