Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Massal Pelajar Prancis Tuntut Perbaikan Pendidikan

Ribuan pelajar di berbagai kota Prancis menggelar demonstrasi besar-besaran menuntut perbaikan fasilitas dan pendanaan pendidikan, memicu bentrokan dengan polisi dan penangkapan hingga 5.000 orang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Aksi Massal Pelajar Prancis Tuntut Perbaikan Pendidikan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Gelombang protes pelajar menyebar luas di sejumlah kota Prancis, termasuk Strasbourg, Marseille, Rennes, dan Pantin, pada Jumat (2/10/2026), menyebabkan kerusuhan dan penggunaan kekuatan oleh aparat. Di beberapa lokasi, demonstran membakar tempat sampah, melemparkan petasan, serta menyerang polisi dengan benda tajam dan cairan. Di La Ciotat, seorang remaja dilaporkan menyemprotkan bahan bakar ke seorang guru, sementara di Pantin, pagar dan kendaraan dibakar sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan pendidikan yang dianggap tidak memadai.

Aksi tersebut muncul sebagai respons terhadap kondisi sekolah yang memprihatinkan, termasuk ruang kelas yang padat, kurangnya tenaga pengajar, dan fasilitas yang rusak. Banyak pelajar menyatakan kekecewaan terhadap pemerintah yang dianggap mengabaikan tuntutan mereka selama bertahun-tahun. Seorang siswa berusia 15 tahun, Kesia, mengungkapkan bahwa kelasnya berisi 35 siswa tanpa cukup kursi, sementara waktu istirahat hanya satu jam—tidak cukup bagi semua untuk makan. Ia pun berlari menjauh saat polisi menggunakan gas air mata.

Pemerintah mengaku kewalahan menghadapi eskalasi, dengan Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyatakan bahwa sekitar 5.000 orang telah ditangkap sejak Senin, sebagian besar di antaranya remaja. Menteri Kehakiman Gerald Darmanin menyatakan bahwa orang tua dari pelaku kerusakan properti harus menanggung biaya ganti rugi. Sebanyak 400 sekolah menengah, atau sekitar sepertiga dari jumlah total, ditutup sementara akibat situasi keamanan. Menteri Pendidikan Edouard Geffray melaporkan 65 tenaga pendidikan terluka, termasuk 40 kepala sekolah.

Di tengah krisis, pemerintah mengusulkan kenaikan anggaran pendidikan sebesar 1,7% untuk tahun anggaran 2027, yang akan mencapai 65,53 miliar euro—angka yang dinilai masih jauh dari kebutuhan. Anggaran ini tidak termasuk alokasi pensiun guru, sementara proyeksi pembayaran bunga utang diproyeksikan mencapai 74,5 miliar euro, yang berpotensi menggeser pos pendidikan sebagai prioritas belanja terbesar. Serikat pekerja menyerukan mogok guru pada Selasa mendatang, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap sistem yang terus merosot.

Tudingan kekerasan oleh polisi mulai muncul, dengan sejumlah kelompok hak asasi manusia melaporkan penggunaan pentungan, gas air mata, dan peluru karet terhadap pelajar di bawah umur. Badan intelijen menyebut gerakan ini dipicu oleh kelompok politik sayap kiri, tetapi sejumlah anggota parlemen dari partai tersebut membantah tudingan tersebut dan menilai pemerintah sedang memanfaatkan isu untuk kepentingan politik menjelang pemilu. Otoritas Prancis telah membuka penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran hak asasi dalam penanganan demonstrasi, termasuk kasus seorang pelajar berusia 16 tahun yang dilaporkan mengalami cedera akibat tindakan aparat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya