Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Pro-Palestina Siap Hadang Konser Ed Sheeran di Stadion Gillette

Kelompok aktivis Massachusetts Peace Action akan menggelar demonstrasi di sekitar Stadion Gillette sebelum konser Ed Sheeran, menyoroti keterlibatan pemilik stadion yang melarang Macklemore karena dukungan terhadap Palestina.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 23.06 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Aksi Pro-Palestina Siap Hadang Konser Ed Sheeran di Stadion Gillette📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Puluhan aktivis dari Massachusetts Peace Action telah menyiapkan aksi demonstrasi di dekat Gillette Stadium menjelang konser Ed Sheeran pada Sabtu (26/9) waktu setempat. Aksi ini menjadi respons atas kebijakan pengelola venue yang mencabut penampilan rapper Macklemore setelah ia menyampaikan dukungan untuk Palestina di panggung MetLife Stadium awal September 2026. Penghentian tampilan tersebut memicu gelombang protes dari kalangan seniman dan aktivis di berbagai wilayah.

Demonstrasi akan dimulai pukul 14.30 waktu setempat di persimpangan Route 1 dan North Street, lalu bergerak menuju lokasi konser. Kelompok tersebut menekankan bahwa peristiwa ini bukan sekadar isu hiburan, melainkan cerminan dari dominasi kekuatan ekonomi dan politik oleh kalangan miliarder dalam membentuk ruang publik dan batasan ekspresi. Mereka menyoroti peran Robert Kraft, pemilik stadion, yang secara terbuka menolak penampilan Macklemore karena alasan politik.

Aksi ini juga menyoroti kian ketatnya kontrol terhadap kebebasan berpendapat di ruang publik, terutama saat acara musik besar. Banyak musisi pembuka lain, termasuk Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan Beoga, memilih mundur secara sukarela sebagai bentuk solidaritas. Keputusan ini menunjukkan bahwa isu Palestina kini menjadi pusat perhatian di kalangan seniman global, yang memilih tidak terlibat dalam platform yang dianggap membatasi kebebasan ekspresi.

Ed Sheeran sendiri sempat angkat bicara dalam penampilan solo di Philadelphia pada 21 September, menyampaikan kekhawatiran mendalam atas situasi yang sedang terjadi. Ia menyebut masa-masa terakhir ini sebagai yang paling sulit dalam hidupnya, dan menyampaikan permohonan maaf atas posisi yang dianggap ambigu. Ia menyoroti kecemasan terhadap praktik penyaringan materi oleh pihak pengelola acara, yang dinilai menciptakan batasan atas kebebasan berpendapat di tengah perdebatan global yang sensitif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya