Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aktivitas Seismik Berkepanjangan di Lokasi Uji Coba Nuklir Korea Utara

Studi menunjukkan gempa bumi berkelanjutan di Punggye-ri sejak uji coba terakhir 2017, menandakan kerusakan permanen pada kerak bumi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 23.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Aktivitas Seismik Berkepanjangan di Lokasi Uji Coba Nuklir Korea Utara📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejak uji coba nuklir terakhir di Gunung Mantap, Provinsi Hamgyong Utara, Korea Utara, pada 2017, wilayah tersebut mengalami peningkatan aktivitas seismik yang tak biasa dan berlangsung bertahun-tahun. Ledakan dengan daya ledak 160 kiloton tersebut memicu gempa bumi magnitudo 6,3 dan menyebabkan keruntuhan struktur terowongan di lokasi uji coba. Namun, yang mengejutkan, aktivitas gempa tak kunjung mereda, justru terus meningkat seiring waktu, berbeda dari pola sebelumnya yang hanya berlangsung beberapa hari atau minggu setelah ledakan.

Analisis data seismik dari 2008 hingga 2025 oleh tim ilmuwan dari Korea Selatan dan Tiongkok menemukan 1.399 gempa bumi di sekitar lokasi tersebut, sebagian besar berkekuatan antara 2 hingga 3 magnitudo. Peneliti menyebut tren ini sangat jelas dan linier, bahkan lebih menonjol setelah uji coba keenam pada 2017. Kondisi ini berbeda secara signifikan dari pola pasca-ledakan sebelumnya, yang umumnya bersifat sementara dan terbatas secara geografis.

Para ilmuwan menduga bahwa ledakan nuklir telah memicu aktivasi dua patahan intraplate—retakan kuno dalam kerak bumi yang tidak berada di batas lempeng tektonik—yang sebelumnya tidak aktif. Dengan kerak bumi yang stabil di Semenanjung Korea, aktivitas seismik yang terjadi di wilayah ini sangat jarang terjadi secara alami. Karena itu, para peneliti menyimpulkan bahwa gangguan besar dari uji coba nuklir telah mengubah dinamika geologis lokal secara permanen.

Mekanisme yang mendasarinya diduga terkait dengan peningkatan tekanan pori akibat air yang meresap ke dalam retakan baru yang terbentuk akibat ledakan. Tekanan ini mendorong patahan untuk bergeser lebih mudah, sehingga memicu gempa bumi berulang. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak uji coba nuklir bawah tanah bisa jauh melampaui ledakan awal, bahkan membentuk sistem seismik baru yang bertahan dalam jangka panjang.

Karena aktivitas seismik yang terus berlangsung, pemantauan lokasi uji coba nuklir menjadi lebih kompleks, karena sulit membedakan antara gempa akibat manusia dan gempa tektonik alami. Meski tidak ada bukti uji coba baru sejak 2017, laporan intelijen dan aktivitas pemulihan terowongan sejak 2022 menunjukkan kemungkinan kembali aktifnya fasilitas tersebut. Studi ini juga mempertimbangkan kemungkinan paparan radiasi kepada penduduk sekitar, meski penyebabnya belum dapat dipastikan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya