Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Altman: Keburukan AI Tak Terhindarkan demi Kemajuan

CEO OpenAI Sam Altman menyatakan dunia harus menerima risiko peretasan, penipuan, dan penyalahgunaan AI sebagai konsekuensi wajar dari kemajuan teknologi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 12.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Altman: Keburukan AI Tak Terhindarkan demi Kemajuan📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Sam Altman, pemimpin OpenAI, menegaskan bahwa kemajuan kecerdasan buatan tidak bisa dilepaskan dari dampak negatif yang turut muncul. Dalam pernyataan terbaru, ia menyebut bahwa peretasan sistem, penipuan digital, dan penggunaan AI secara tidak etis merupakan harga yang harus dibayar demi kemajuan teknologi yang lebih besar. Menurutnya, masyarakat global perlu memahami bahwa tidak ada kemajuan tanpa risiko, terutama dalam inovasi yang berskala besar seperti AI.

Altman menyoroti perbedaan pendekatan antara OpenAI dan pesaingnya, Anthropic, terkait regulasi dan kontrol teknologi. Ia menilai bahwa pembatasan ketat terhadap akses ke AI canggih justru dapat menghambat potensi positifnya. "Saya tidak akan menjanjikan dunia tanpa peretasan besar, tanpa penipuan, tanpa hal buruk lainnya," tegasnya, menegaskan bahwa keberadaan risiko adalah bagian dari proses evolusi teknologi.

Ia yakin bahwa manfaat yang dihasilkan AI—dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan produktivitas—akan jauh melampaui dampak negatifnya. Dalam pandangannya, manusia akan memanfaatkan AI untuk menciptakan kebaikan dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kerugian yang muncul. Namun, Altman tetap menekankan pentingnya menjaga kendali manusia atas sistem AI, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya risiko yang tidak terduga.

Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keseimbangan antara inovasi dan keamanan. Di satu sisi, Altman menerima sisi gelap sebagai hal yang tak terhindarkan. Di sisi lain, ia menolak membiarkan AI melebihi kendali manusia secara penuh, menunjukkan bahwa ada batas yang harus dipertahankan meski dalam penerimaan terhadap risiko.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya