Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Amazon Catat Deforestasi Terendah Sejak 1988

Penebangan hutan di Amazon mencapai 3.335 km² dalam 12 bulan hingga Juli, rekor terendah sejak pemantauan dimulai pada 1988, menandai kemajuan signifikan dalam pelestarian lingkungan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 17.33 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 123x dibuka
Amazon Catat Deforestasi Terendah Sejak 1988📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Peta deforestasi hutan hujan Amazon kini menunjukkan penurunan drastis, dengan luasan hutan yang dirambah selama periode 12 bulan hingga Juli mencapai 3.335 kilometer persegi. Angka ini menjadi catatan terendah dalam sejarah pencatatan resmi sejak 1988, menandai perubahan signifikan dibandingkan puncak deforestasi pada era 1990-an yang mencapai hampir 30 ribu km² per tahun. Data tersebut dikeluarkan oleh Badan Penelitian Antariksa Brasil (Inpe), yang menjadi rujukan utama dalam pemantauan lingkungan di wilayah tersebut.

Pemerintah Brasil menyambut positif capaian ini sebagai bukti efektivitas kebijakan lingkungan yang diperkuat sejak 2023. Presiden Lula da Silva menegaskan bahwa target jangka panjangnya tetap berpijak pada pencapaian nol deforestasi ilegal pada tahun 2030. Ia mengunggah hasil laporan tersebut di media sosial, menyertakan kutipan dari media lokal yang menyoroti pencapaian bersejarah ini sebagai langkah penting dalam upaya konservasi iklim.

Perubahan drastis terjadi sejak era sebelumnya, khususnya selama kepemimpinan Jair Bolsonaro (2019–2022), di mana rata-rata hutan Amazon yang hilang mencapai sekitar 11.600 km² per tahun. Sejak peralihan kekuasaan, tren penebangan ilegal menurun secara konsisten, dengan penurunan hingga 71,2 persen dalam empat tahun terakhir. Faktor utama yang menyokong penurunan ini dikaitkan dengan peningkatan pengawasan, pelibatan satuan tugas khusus, serta penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pelanggaran lingkungan.

Organisasi pemantau iklim Observatorio do Clima menyampaikan apresiasi atas perkembangan ini, menilai bahwa kemauan politik yang kuat dapat menjadi pemicu penurunan emisi gas rumah kaca secara berkelanjutan. Anggota organisasi tersebut, Marico Astrini, menekankan bahwa pencapaian ini membuka peluang nyata untuk memperkuat komitmen global terhadap penanganan krisis iklim, asalkan kebijakan yang efektif tetap dipertahankan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya