Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Antrean BBM di Daerah Diduga Akibat Penyalahgunaan Subsidi

Stok BBM nasional masih aman di angka 16–18 hari, namun antrean panjang di sejumlah wilayah disebabkan praktik penyalahgunaan subsidi oleh oknum yang menampung solar subsidi untuk dijual kembali.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 15.25 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 45x dibuka
Antrean BBM di Daerah Diduga Akibat Penyalahgunaan Subsidi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) secara nasional saat ini berada dalam kondisi aman, mencapai rentang 16 hingga 18 hari. Meski demikian, terjadi ketegangan di beberapa daerah akibat antrean panjang di SPBU, yang diduga disebabkan oleh praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kejadian ini bukan karena kelangkaan pasokan, melainkan perilaku sekelompok orang yang memanfaatkan subsidi untuk keuntungan pribadi.

Ia mengungkapkan adanya kasus penggunaan kendaraan berkapasitas besar, seperti mobil Pajero, yang menampung hingga 700 hingga 1.000 liter solar subsidi, lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi. Praktik ini, menurut Bahlil, merugikan negara karena subsidi yang diberikan berasal dari anggaran negara. Ia meminta Kapolri untuk turut mengawasi dan menindak tegas pelaku yang terbukti menyelundupkan BBM subsidi untuk keperluan komersial.

Berdasarkan laporan dari PT Pertamina, distribusi BBM dari Jawa Timur ke Bali dan wilayah lain telah dilakukan secara rutin, namun untuk memastikan ketersediaan, pemerintah memerintahkan peningkatan kapasitas kapal pengangkut. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan pasokan di daerah terpencil. Bahlil menegaskan bahwa kondisi ini bukan tanda kekurangan, melainkan respons terhadap pergeseran pola konsumsi yang memengaruhi stok BBM jenis RON 90 atau Pertalite.

Perubahan pola konsumsi tersebut terjadi karena banyak pengguna beralih dari BBM non-subsidi seperti RON 92, 95, dan 98 ke BBM bersubsidi RON 90, karena selisih harga yang cukup signifikan. Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa ketersediaan BBM non-subsidi tetap stabil dan tidak mengalami krisis. Ia optimistis, dalam waktu sekitar seminggu, stok nasional dapat kembali mencapai angka 20 hari jika kebijakan distribusi dan pengawasan diperkuat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya