Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Arus Modal Asing Menurun Pasca-Pengumuman MSCI

Bank Indonesia mencatat arus keluar dana asing setelah MSCI mengeluarkan paparan kajian perubahan klasifikasi pasar modal, memengaruhi saham, SBN, dan SRBI, namun likuiditas rupiah tetap terjaga.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.22 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 37x dibuka
Arus Modal Asing Menurun Pasca-Pengumuman MSCI📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank Indonesia mengamati perubahan signifikan dalam arus modal asing sejak akhir September hingga pertengahan Oktober 2026, yang awalnya menunjukkan aliran masuk stabil. Namun, sejak MSCI merilis dokumen konsultasi terkait rencana perubahan klasifikasi pasar Indonesia, tren tersebut berbalik, dengan munculnya arus keluar dari berbagai instrumen pasar modal. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI menyatakan bahwa pergerakan ini tidak terbatas pada pasar saham, melainkan juga mencakup Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Keluar masuknya dana asing ini dipicu oleh sentimen pasar yang dipengaruhi oleh dokumen konsultasi MSCI, yang menimbulkan ketidakpastian mengenai posisi Indonesia dalam indeks global. Meski BI tidak merilis angka pasti terkait volume outflow, pihaknya memastikan bahwa pergerakan tersebut telah diawasi secara ketat. Sebelumnya, kebijakan insentif BI yang diterapkan sejak bulan Juni telah mampu menarik aset rupiah sebesar Rp137 triliun hingga Rp138 triliun, dengan kontribusi utama dari SRBI (Rp85 triliun) dan SBN (Rp53 triliun), serta transaksi swap dan NDF mencapai hampir US$8,4 miliar dan US$1,4 miliar.

Untuk menjaga stabilitas pasar, BI menegaskan ketersediaan likuiditas rupiah tetap memadai, terutama untuk menopang transaksi di pasar saham. Jika terjadi tekanan berlebihan terhadap nilai tukar rupiah, bank sentral siap merespons melalui instrumen operasi moneter, termasuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) atau intervensi langsung di pasar valuta asing. Meski nilai tukar sempat menyentuh level di atas Rp18 ribu per dolar AS, BI menyatakan pergerakan tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola.

Secara bertahap, BI juga melanjutkan normalisasi kebijakan moneter dengan menurunkan posisi SRBI dari level tertinggi Rp1.070 triliun ke kisaran Rp900 triliun, melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun. Langkah ini dilakukan secara terukur untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas jangka panjang dan kebutuhan likuiditas jangka pendek serta menengah. Tujuannya adalah memperkuat transmisi kebijakan moneter dan menjaga ketersediaan likuiditas yang memadai setiap hari di pasar uang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya