AS dan China Berebut Keunggulan AI, Strategi Berbeda, Tujuan Sama
Kedua negara bersaing ketat dalam pengembangan kecerdasan buatan, dengan AS unggul di inovasi teknis, sementara China fokus pada penerapan luas dan akses terbuka.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 21.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin Amerika Serikat dan Tiongkok menyoroti ketegangan strategis yang semakin memanas dalam perlombaan global menuju dominasi teknologi kecerdasan buatan. Di tengah narasi geopolitik yang memperbesar ancaman, kedua negara menegaskan bahwa kendali atas AI bukan sekadar soal inovasi, tetapi juga kekuatan nasional. Presiden AS menyatakan secara eksplisit bahwa kemenangan dalam bidang ini akan menentukan masa depan keunggulan global, sementara pemimpin Tiongkok, meski tidak mengungkapkan ambisi secara terbuka, telah mendorong kebijakan yang menempatkan AI sebagai pilar utama transformasi ekonomi dan militer negara.
Dari sisi teknis, perusahaan-perusahaan AS masih mendominasi pengembangan model AI paling canggih, atau yang dikenal sebagai frontier models. Perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Anthropic terus memimpin dalam pengujian kinerja sistem, dengan model terbaru dari Anthropic menempati posisi teratas pada Maret 2026—hanya unggul 2,7% dari model terdepan lainnya menurut penelitian Stanford. Investasi besar dalam infrastruktur komputasi dan sumber daya manusia menjadi faktor kunci keunggulan tersebut, yang didukung oleh dinamika pasar saham yang positif dan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor teknologi.
Namun, di sisi lain, Tiongkok menunjukkan pendekatan berbeda yang justru menekankan akses dan skalabilitas. Meski menghadapi pembatasan ekspor mikrocip canggih dari AS—yang menghambat pengembangan sistem berperforma tinggi—Tiongkok berhasil menciptakan model AI yang mampu menyaingi rekan-rekannya di barat secara kinerja, meski dalam waktu yang relatif singkat. Pendekatan open-weight yang digunakan oleh perusahaan seperti Moonshot AI, dengan rilisan model seperti Kimi K3, memungkinkan penggunaan bebas dan modifikasi lintas platform, menarik minat luas baik dalam negeri maupun internasional.
Para analis menilai bahwa keunggulan Tiongkok tidak terletak pada keunggulan teknis semata, tetapi pada strategi penerapan massal. Menurut Lizzi Lee dari Asia Society Policy Institute, fokus Beijing adalah membuat AI yang canggih menjadi murah, terbuka, dan tersedia secara luas, sehingga dapat diterapkan di berbagai sektor ekonomi. Dalam pandangan ini, kemenangan bukan hanya soal memimpin pengembangan, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi secara efisien untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kekuatan geopolitik.
Kendati demikian, kedua negara menyadari bahwa keberlanjutan pengembangan AI tidak bisa dilepaskan dari kerja sama global. Pihak Tiongkok menekankan pentingnya menghindari narasi ancaman dan membangun tata kelola bersama untuk memastikan bahwa teknologi ini berkontribusi bagi kesejahteraan umat manusia. Pertemuan antar pemimpin, yang diwarnai upacara formal dan atraksi militer, bukan sekadar simbol diplomasi, tetapi refleksi kompleksitas yang melingkupi masa depan teknologi—di mana keunggulan teknis, kebijakan pemerintah, dan kepentingan global saling berinteraksi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Qualcomm Perkenalkan Chipset Terbaru untuk Smartphone Premium
Qualcomm meluncurkan dua chipset flagship baru, Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6 dan 8 Elite Gen 6, yang menawarkan kinerja tinggi, dukungan AI agentic, dan fitur multimedia canggih untuk perangkat premium.
24 September 2026

Indonesia-Rusia Jajaki Kolaborasi Satelit dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah Indonesia dan Rusia memperdalam pembicaraan tentang kerja sama teknologi satelit dan kecerdasan buatan untuk mendukung transformasi digital nasional.
24 September 2026

Pemerintah Perkuat Akurasi Bansos Lewat Teknologi Wajah dan Data Terintegrasi
Pemerintah memperbarui sistem verifikasi penerima bantuan sosial dengan integrasi face recognition dan data kepemilikan aset dari Dukcapil, BPN, hingga kepolisian untuk memastikan keakuratan dan keadilan distribusi bantuan.
24 September 2026

Status Kepegawaian Manajer Kopdes Diperjelas, Dua Pernyataan Berbeda Muncul
Penjelasan berbeda dari pejabat BUMN mengenai status kepegawaian manajer Kopdes Merah Putih memicu kebingungan, meski semua menyepakati skema PKWT dua tahun dan keterlibatan Agrinas sebagai pelaksana.
24 September 2026
Berita Lainnya

Presiden Bentuk Badan Nasional untuk Pencegahan Karhutla dari Akar Rumput
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Presiden Dorong Riset Optimalisasi Lahan Gambut
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Mabes Polri Ambil Alih Penyelidikan Tenggelamnya Kapal Virgo
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Pemprov NTB dan DPR RI Perkuat Perlindungan PMI dari Hulu ke Hilir
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Penyusunan UU Reforma Agraria Dilakukan dengan Pertimbangan Mendalam
Kamis, 24 September 2026, 23.28 WITA

Penularan HIV: Fakta Ilmiah di Balik Mitos yang Berkembang
Kamis, 24 September 2026, 23.22 WITA

Mobil Penumpang Kapal Pesiar Dipenuhi Anak Laba-Laba di Galveston
Kamis, 24 September 2026, 23.15 WITA

Vaksindo Ekspor Vaksin Unggas ke Afrika, Capai Rp1,9 Miliar
Kamis, 24 September 2026, 23.15 WITA

