Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS dan China Berebut Keunggulan AI, Strategi Berbeda, Tujuan Sama

Kedua negara bersaing ketat dalam pengembangan kecerdasan buatan, dengan AS unggul di inovasi teknis, sementara China fokus pada penerapan luas dan akses terbuka.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 21.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
AS dan China Berebut Keunggulan AI, Strategi Berbeda, Tujuan Sama📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin Amerika Serikat dan Tiongkok menyoroti ketegangan strategis yang semakin memanas dalam perlombaan global menuju dominasi teknologi kecerdasan buatan. Di tengah narasi geopolitik yang memperbesar ancaman, kedua negara menegaskan bahwa kendali atas AI bukan sekadar soal inovasi, tetapi juga kekuatan nasional. Presiden AS menyatakan secara eksplisit bahwa kemenangan dalam bidang ini akan menentukan masa depan keunggulan global, sementara pemimpin Tiongkok, meski tidak mengungkapkan ambisi secara terbuka, telah mendorong kebijakan yang menempatkan AI sebagai pilar utama transformasi ekonomi dan militer negara.

Dari sisi teknis, perusahaan-perusahaan AS masih mendominasi pengembangan model AI paling canggih, atau yang dikenal sebagai frontier models. Perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Anthropic terus memimpin dalam pengujian kinerja sistem, dengan model terbaru dari Anthropic menempati posisi teratas pada Maret 2026—hanya unggul 2,7% dari model terdepan lainnya menurut penelitian Stanford. Investasi besar dalam infrastruktur komputasi dan sumber daya manusia menjadi faktor kunci keunggulan tersebut, yang didukung oleh dinamika pasar saham yang positif dan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor teknologi.

Namun, di sisi lain, Tiongkok menunjukkan pendekatan berbeda yang justru menekankan akses dan skalabilitas. Meski menghadapi pembatasan ekspor mikrocip canggih dari AS—yang menghambat pengembangan sistem berperforma tinggi—Tiongkok berhasil menciptakan model AI yang mampu menyaingi rekan-rekannya di barat secara kinerja, meski dalam waktu yang relatif singkat. Pendekatan open-weight yang digunakan oleh perusahaan seperti Moonshot AI, dengan rilisan model seperti Kimi K3, memungkinkan penggunaan bebas dan modifikasi lintas platform, menarik minat luas baik dalam negeri maupun internasional.

Para analis menilai bahwa keunggulan Tiongkok tidak terletak pada keunggulan teknis semata, tetapi pada strategi penerapan massal. Menurut Lizzi Lee dari Asia Society Policy Institute, fokus Beijing adalah membuat AI yang canggih menjadi murah, terbuka, dan tersedia secara luas, sehingga dapat diterapkan di berbagai sektor ekonomi. Dalam pandangan ini, kemenangan bukan hanya soal memimpin pengembangan, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi secara efisien untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kekuatan geopolitik.

Kendati demikian, kedua negara menyadari bahwa keberlanjutan pengembangan AI tidak bisa dilepaskan dari kerja sama global. Pihak Tiongkok menekankan pentingnya menghindari narasi ancaman dan membangun tata kelola bersama untuk memastikan bahwa teknologi ini berkontribusi bagi kesejahteraan umat manusia. Pertemuan antar pemimpin, yang diwarnai upacara formal dan atraksi militer, bukan sekadar simbol diplomasi, tetapi refleksi kompleksitas yang melingkupi masa depan teknologi—di mana keunggulan teknis, kebijakan pemerintah, dan kepentingan global saling berinteraksi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya