Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Perpanjang Ketergantungan pada China untuk Mineral Langka

Meski mempercepat produksi domestik, AS masih bergantung pada impor China untuk hampir 25% kebutuhan mineral tanah jarang dalam lima tahun ke depan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 09.05 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 6x dibuka
AS Perpanjang Ketergantungan pada China untuk Mineral Langka📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Amerika Serikat mengakui bahwa upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan mineral tanah jarang dari China akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Meskipun telah meluncurkan berbagai program percepatan pembangunan fasilitas tambang dan pengolahan dalam negeri, produksi dalam negeri saat ini baru mencapai 42% dari total permintaan AS. Dalam lima tahun mendatang, negara itu tetap diproyeksikan mengimpor sekitar seperempat kebutuhan mineral strategis tersebut.

Kebijakan tersebut muncul dalam konteks rapat bilateral antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Washington, yang menyoroti keterkaitan strategis antar kedua negara dalam sektor energi dan teknologi. Mineral tanah jarang, yang menjadi bahan dasar magnet kuat, komponen elektronik, sistem persenjataan canggih, dan kendaraan listrik, menjadi fokus utama dalam negosiasi dagang. Ketergantungan ini menjadi isu sensitif dalam dinamika geopolitik global yang kian memanas.

Menurut analis dari ING, Coco Zhang, tujuan AS bukan menggantikan China sebagai pemasok dominan global, melainkan membangun sistem pasokan alternatif yang mampu menjamin ketahanan nasional saat terjadi gangguan geopolitik. "Fokus bukan pada menggantikan China, melainkan memastikan bahwa sektor kunci seperti pertahanan dan teknologi tetap terlindungi," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip dari kantor berita internasional.

Pendekatan ini menunjukkan realisme dalam kebijakan energi dan industri, di mana transisi ke produksi lokal membutuhkan waktu panjang dan investasi besar. Dalam praktiknya, AS masih membutuhkan kolaborasi dengan mitra strategis lainnya, sementara China tetap menjadi pemain utama dalam rantai pasok global untuk mineral langka.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya