AS Pertimbangkan Bom Raksasa untuk Tekan Iran
AS menimbang penggunaan bom non-nuklir terbesar, MOAB, sebagai opsi serangan terhadap fasilitas nuklir dan energi Iran, meski efektivitasnya terhadap target bawah tanah diragukan.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 09.03 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Militer Amerika Serikat sedang meninjau kembali kemungkinan penggunaan bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB), senjata non-nuklir paling berat yang pernah dikembangkan, sebagai bagian dari rencana operasi militer terhadap Iran. Bahan peledak berukuran raksasa itu, yang dikenal sebagai “induk segala bom”, sedang dipertimbangkan sebagai alat tekanan strategis jika Presiden Donald Trump memutuskan untuk melancarkan aksi militer. Opsi ini muncul dalam konteks ketegangan yang terus berlanjut dan belum adanya kemajuan dalam diplomasi, terutama terkait program nuklir Teheran dan akses melalui Selat Hormuz.
Rencana serangan yang sedang dipersiapkan mencakup target infrastruktur krusial, termasuk fasilitas bawah tanah yang diduga berada di Pickaxe Mountain. Namun, meski MOAB memiliki daya ledak sangat besar—setara dengan sekitar 11 ton bahan peledak—para analis dan pejabat militer mempertanyakan kemampuannya menembus lapisan batu keras yang melindungi fasilitas nuklir. Seorang sumber yang dekat dengan proses perencanaan menyebut bahwa senjata ini lebih berfungsi sebagai alat psikologis dan simbolik, bukan alat strategis utama dalam menyerang target terlindung.
Penggunaan MOAB, menurut sumber lain, bisa menjadi bentuk sinyal politik yang kuat kepada Iran dan sekutunya, menunjukkan bahwa Washington tetap memiliki opsi militer besar tanpa harus melibatkan pasukan darat dalam skala besar. Hal ini menjadi penting mengingat Trump menghadapi tekanan internal untuk menyelesaikan konflik yang tidak populer di kalangan publik AS, sambil tetap menjaga citra kekuatan dan konsistensi kebijakan luar negeri. Keputusan akhir belum diambil, dan hingga saat ini tidak ada konfirmasi bahwa presiden telah menyetujui penggunaan senjata tersebut.
Pembahasan mengenai MOAB juga mencerminkan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang dari tindakan militer. Beberapa pejabat menilai bahwa serangan semacam ini bisa memperkeruh situasi tanpa menyelesaikan akar masalah. MOAB sendiri pertama kali digunakan pada 2017 untuk menghancurkan terowongan ISIS di Afghanistan, yang mengakibatkan sejumlah korban dan kerusakan signifikan. Kini, senjata itu kembali menjadi perbincangan dalam konteks geopolitik yang lebih kompleks, dengan fokus pada keseimbangan antara kekuatan, diplomasi, dan konsekuensi strategis.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
Ai Lian Rayakan Ulang Tahun ke-7 dengan Perayaan Khusus di Chongqing
Panda raksasa Ai Lian merayakan ulang tahun ke-7 di Taman Tematik Locajoy, Chongqing, dengan menu spesial dan kehadiran pengunjung.
24 Oktober 2026

Militer AS Larang Taruhan Berbasis Informasi Rahasia
Menteri Perang AS melarang keras anggota militer menggunakan informasi sensitif untuk bertaruh di platform prediksi, setelah skandal keuntungan miliaran dari taruhan berbasis intelijen.
24 Oktober 2026

Iran Diklaim Perkuat Aksi Target Warga AS di Berbagai Wilayah
Intelijen AS memperingatkan peningkatan upaya Iran menargetkan warga negara Amerika di Timur Tengah dan sejumlah negara lain, menyusul meningkatnya ketegangan bilateral.
24 Oktober 2026

Jajak Pendapat Akhir Sebelum Pemilu Israel Tunjukkan Kekuatan Oposisi Melonjak
Jajak pendapat terbaru menunjukkan blok Netanyahu anjlok ke 48 kursi, sementara oposisi Yahudi naik ke 54 kursi, menandai pergeseran signifikan menjelang pemilu 27 Oktober.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

