Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Tarik Semua Bomber dari Pangkalan Inggris Akibat Ancaman Teror

Penarikan seluruh pesawat B-1 dari RAF Fairford dilakukan menyusul penangkapan warga ganda Inggris-Iran terkait rencana serangan, sementara ketegangan di Selat Hormuz terus memburuk dengan serangan kapal tanker.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 09.00 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
AS Tarik Semua Bomber dari Pangkalan Inggris Akibat Ancaman Teror📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Amerika Serikat telah menarik seluruh pesawat pengebom B-1 dari pangkalan militer RAF Fairford di Inggris, menandai pergeseran strategis dalam operasi militer di Eropa Barat. Keputusan ini diambil setelah otoritas keamanan mengungkap adanya dugaan rencana serangan teror terhadap fasilitas militer tersebut, yang dikaitkan dengan seorang warga negara ganda Inggris-Iran yang ditangkap pekan lalu. Penarikan dilakukan tanpa pernyataan resmi dari Pentagon, namun dikonfirmasi oleh pejabat militer yang tidak diizinkan membahas isu sensitif secara publik.

Pangkalan RAF Fairford, yang berjarak sekitar 160 kilometer barat London, telah menjadi pusat operasi utama bagi pesawat pengebom AS selama bertahun-tahun, terutama dalam misi di wilayah Timur Tengah. Sebelumnya, puluhan pesawat B-52 dan B-1 sempat ditempatkan di sana sejak eskalasi konflik antara Iran dan negara-negara Barat. Namun, kehadiran pesawat tersebut kini digantikan dengan penarikan menyeluruh ke pangkalan di AS, menunjukkan penyesuaian kebijakan keamanan dalam konteks ancaman internal.

Situasi di kawasan strategis Selat Hormuz terus memburuk. Dalam dua hari terakhir, dua kapal tanker dilaporkan mengalami serangan di perairan dekat Oman dan Selat Hormuz. Salah satu kapal mengalami tembakan proyektil tak dikenal sekitar empat mil laut dari pantai Oman, sementara kapal lainnya mengalami kerusakan mesin di Selat Hormuz. Serangan berulang ini menambah kekhawatiran global terhadap keamanan jalur pelayaran internasional, yang menjadi kunci distribusi energi dunia.

Iran kembali menegaskan bahwa akses Selat Hormuz akan dibatasi hingga tujuh syarat dipenuhi, termasuk penghentian agresi militer AS, pencabutan blokade laut, dan pembebasan aset Iran. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang fasilitas perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, di Riyadh menggunakan rudal balistik dan drone sebagai balasan atas serangan di Yaman. Gambar asap dan api yang terlihat dari lokasi tersebut menunjukkan potensi eskalasi ke ranah sipil dan infrastruktur strategis.

Ketegangan geopolitik ini memicu kekhawatiran di kalangan investor global, yang memperkirakan konflik dapat meledak kembali dalam waktu dekat. Harga minyak sempat melonjak akibat kehadiran pasukan amfibi AS dan kapal induk ketiga di kawasan, namun mulai menurun setelah negara-negara G7 memutuskan melepas cadangan minyak dan solar. Pada akhir pekan, harga minyak Brent turun menjadi US$102,25 per barel, sementara WTI mencapai US$91,11, menunjukkan bahwa pasar masih responsif terhadap dinamika keamanan energi global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya