Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asap Karhutla Guyur Singapura Jelang F1 2026

Kualitas udara Singapura memburuk parah akibat kabut asap lintas batas dari kebakaran lahan di Sumatera, menyentuh level "sangat tidak sehat" saat jelang Grand Prix F1 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Asap Karhutla Guyur Singapura Jelang F1 2026📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi atmosfer di Singapura memburuk secara drastis menjelang penyelenggaraan Formula One Singapore Grand Prix 2026, dengan polusi udara mencapai titik tertinggi secara global. Kenaikan tingkat pencemaran disebabkan oleh kabut asap yang berasal dari serangkaian kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera, Indonesia, yang terjadi sejak Jumat (9/10/2026). Data terbaru dari IQAir menunjukkan indeks kualitas udara (PSI) mencapai 152, berada dalam kategori "sangat tidak sehat", mengancam kesehatan warga dan pengunjung acara olahraga internasional tersebut.

Perhelatan balap F1 tahunan yang digelar di sirkuit jalanan Marina Bay berlangsung pada periode 9 hingga 11 Oktober 2026, namun kualitas udara yang memburuk menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kenyamanan dan keselamatan peserta serta penonton. Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura mengonfirmasi bahwa asap lintas batas dengan intensitas sedang telah menyelimuti sebagian besar wilayah kota, termasuk wilayah Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sarawak, serta wilayah tengah dan selatan Sumatera.

Deteksi satelit menunjukkan adanya klaster titik panas (hotspot) yang tersebar luas di wilayah Kalimantan dan sebagian besar wilayah tengah serta selatan Sumatera. Asap dengan kepadatan sedang hingga pekat terus teramati, menandakan aktivitas kebakaran yang masih berlangsung secara luas. Kondisi ini menjadi peringatan bagi otoritas lokal dan internasional mengenai dampak lingkungan dari praktik pembakaran lahan yang tidak terkendali.

Ketegangan ini menyoroti ketergantungan wilayah regional terhadap kebijakan mitigasi lingkungan yang komprehensif, terutama menjelang acara publik bergengsi yang menarik perhatian global. Upaya pencegahan dan penanganan darurat diharapkan dapat segera diperkuat untuk mengurangi risiko kesehatan dan gangguan aktivitas publik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya