Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asap Karhutla Picu Lonjakan Karbon Monoksida di Indonesia

Konsentrasi karbon monoksida tinggi meluas di seluruh Indonesia sejak Oktober 2026, diduga akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyebar ke Malaysia dan Singapura.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 67x dibuka
Asap Karhutla Picu Lonjakan Karbon Monoksida di Indonesia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemantauan satelit oleh Badan Antariksa Amerika Serikat menunjukkan peningkatan signifikan konsentrasi karbon monoksida (CO) di atmosfer Indonesia sejak awal Oktober 2026. Data dari platform Eyes on the Earth mengungkapkan distribusi gas berbahaya ini mencakup wilayah dari Sumatra hingga Papua, dengan warna merah tua mendominasi peta pemantauan, menandakan tingkat tinggi. Penyebaran ini berlangsung secara bertahap dan terus memperluas area dampak, terutama saat arus angin membawa asap dari lokasi kebakaran ke wilayah tetangga.

Konsentrasi CO yang terdeteksi di kawasan tersebut mencapai level berbahaya menurut standar global, dengan pengukuran dalam satuan ppbv (bagian per miliar volume). Gas tersebut merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari kebakaran hutan, lahan, dan aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil. NASA menyatakan bahwa karbon monoksida berperan sebagai prekursor karbon dioksida di atmosfer, sehingga memiliki dampak jangka panjang terhadap perubahan iklim.

Upaya mitigasi telah dilakukan pemerintah daerah, khususnya di Sumatra Utara, yang terdampak kabut asap dari kebakaran di Sumatra Selatan dan Kalimantan. Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, mengungkapkan pihaknya telah melaksanakan modifikasi cuaca mulai 15 Oktober, dengan fokus pada kawasan Danau Toba, guna mendorong turunnya hujan. Langkah ini dilakukan secara berkelanjutan hingga 16 Oktober, sebagai respons cepat terhadap kondisi atmosfer yang memburuk.

Jika upaya modifikasi cuaca tidak memberikan hasil optimal, pemerintah menyiapkan alternatif lain, termasuk penggunaan dry ice atau es kering untuk mendorong presipitasi. Komunikasi intensif juga dilakukan dengan pemimpin daerah lain, seperti Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru, untuk menyelaraskan strategi penanggulangan asap. Tujuan utama adalah melindungi kesehatan masyarakat dan menjaga kelancaran aktivitas harian di tengah kondisi udara yang tercemar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya