Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asap Tipis Menyelimuti Langit Sultra, BMKG Ungkap Sumber dari Papua dan Maluku

Kualitas udara di Sulawesi Tenggara terganggu akibat asap tipis yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan serta Maluku, menurut analisis BMKG.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 17.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka

Kendari, ıNarasikita - Kondisi atmosfer di wilayah Sulawesi Tenggara mengalami perubahan signifikan dalam beberapa hari terakhir, ditandai dengan keberadaan asap tipis yang menyelimuti langit secara luas. Fenomena ini mulai teramati sejak akhir pekan lalu, terutama di kawasan perkotaan seperti Kendari dan Bau-Bau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa asap tersebut berasal dari wilayah timur Indonesia, khususnya Papua Selatan dan Maluku.

Berdasarkan pemantauan satelit dan data pemantauan kualitas udara, sumber asap ditemukan berada di area dengan aktivitas kebakaran lahan yang intensif. BMKG menjelaskan bahwa arus angin dari timur ke barat membawa partikel asap tersebut hingga mencapai Sulawesi Tenggara. Meski belum menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, kondisi ini tetap menjadi perhatian karena berpotensi memperburuk kualitas udara jika kebakaran terus berlanjut.

Tim teknis BMKG di Kendari telah melakukan pemantauan rutin terhadap indeks kualitas udara (IQA) dan menemukan angka indeks di kisaran 70–85, yang termasuk dalam kategori sedang hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif. Masyarakat diminta untuk memperhatikan kondisi pernapasan dan menghindari aktivitas di luar ruangan yang berkepanjangan, terutama pada pagi dan sore hari saat konsentrasi asap cenderung meningkat.

Pihak BMKG menekankan pentingnya koordinasi antar daerah dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan secara nasional. Meskipun Sultra tidak menjadi lokasi sumber asap, dampaknya tetap dirasakan. Upaya pencegahan di wilayah asal asap, termasuk sosialisasi dan peningkatan pengawasan, dinilai krusial untuk mengurangi risiko serupa di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya