Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asia Tenggara Dilanda Kabut Asap Parah Akibat Karhutla di Indonesia

PBB mendesak kerja sama regional untuk mengatasi kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang mencapai level tertinggi dalam dekade terakhir.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 21.04 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 31x dibuka
Asia Tenggara Dilanda Kabut Asap Parah Akibat Karhutla di Indonesia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Asia Tenggara kini menghadapi krisis kualitas udara terparah dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh kebakaran hutan dan lahan yang meluas di wilayah Indonesia. Badan Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa kondisi saat ini merupakan salah satu peristiwa kabut asap lintas batas paling intens yang pernah dirasakan oleh negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Direktur Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, menegaskan bahwa dampak asap tersebut telah melampaui batas wilayah dan membahayakan kesehatan masyarakat secara luas.

Ia menyoroti bahwa meski upaya pemadaman telah dilakukan secara intensif oleh pemerintah Indonesia—termasuk pengerahan personel, penggunaan teknologi, hingga rekayasa cuaca—satu-satunya solusi jangka panjang tetap berada pada turunnya hujan secara berkelanjutan di area terbakar. Tanpa curah hujan yang cukup, kebakaran akan sulit dipadamkan meski berbagai sumber daya telah dikerahkan. Churchill menekankan bahwa keberhasilan penanganan tidak bisa lagi dilakukan secara unilateral.

Dalam konteks regional, ia menyarankan ASEAN mempertimbangkan model kolaborasi serupa yang pernah diterapkan saat bencana kebakaran melanda Australia. Dalam skenario itu, negara-negara terdampak mampu mengirimkan peralatan pemadam, pesawat air, helikopter, serta tenaga ahli. Dengan penggabungan sumber daya dan investasi bersama, negara-negara di kawasan bisa lebih siap menghadapi ancaman serupa di masa depan.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran di berbagai negara tetangga. Singapura mencatat indeks kualitas udara mencapai 288 pada pukul 15.00, level tertinggi sejak 2015. Di Malaysia, kualitas udara di beberapa wilayah bahkan sempat memasuki kategori bahaya, khususnya di wilayah Serawak. Pemerintah Indonesia sendiri telah menyatakan kesiapan menerima bantuan dari negara-negara tetangga untuk menangani kebakaran yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Churchill menekankan bahwa perubahan iklim global, dipengaruhi oleh fenomena El Niño, meningkatkan risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah. Oleh karena itu, ia mengimbau para menteri ASEAN untuk segera merancang kerja sama strategis yang mencakup prakiraan cuaca, pertukaran teknologi, dan kesiapan respons darurat. Menurutnya, mengatasi kebakaran hutan bukan hanya tanggung jawab satu negara, melainkan kebutuhan bersama yang harus dijawab melalui kolaborasi internasional yang terkoordinasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya