Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BI Laporkan Stabilitas Rupiah dan Inflasi ke Prabowo

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan laporan stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi inti 2,8% serta volatile food inflation 5% kepada Presiden Prabowo dalam rapat terbatas di Istana.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 23.17 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 71x dibuka
BI Laporkan Stabilitas Rupiah dan Inflasi ke Prabowo📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan evaluasi terkini mengenai stabilitas moneter kepada Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama laporan mencakup perkembangan inflasi inti dan dinamika nilai tukar rupiah dalam konteks tekanan eksternal yang masih tinggi. Destry menegaskan bahwa BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas rupiah melalui pendekatan holistik, baik dari sisi inflasi maupun kurs.

Inflasi inti pada September tercatat sebesar 2,8%, menunjukkan tekanan harga yang masih terkendali dan berada dalam koridor yang diharapkan. Namun, inflasi bahan pangan atau volatile food inflation mencapai 5%, di atas target BI yang ditetapkan pada 2,5% plus minus 1%. Destry menyampaikan bahwa koordinasi intensif dengan Kementerian Pertanian sedang dilakukan untuk menekan angka tersebut ke dalam batas aman, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga secara menyeluruh.

Di sisi nilai tukar, Destry menginformasikan bahwa volatilitas pasar global masih signifikan, terutama menyusul kebijakan moneter AS yang cenderung menahan suku bunga tinggi lebih lama. Prediksi kenaikan suku bunga Fed Funds Rate di bulan Oktober dinilai semakin kecil, namun tetap menjadi tantangan bagi rupiah. Meski demikian, BI berhasil menjaga stabilitas rupiah selama dua hari terakhir, meski dengan sedikit perlambatan yang sejalan dengan tren beberapa negara berkembang lainnya.

Untuk menjaga ketahanan nilai tukar, BI telah menerapkan berbagai instrumen kebijakan, termasuk intervensi di pasar spot, NDF, DNDF, serta insentif biaya hedging yang telah berlaku sejak akhir Juli. Langkah ini efektif menarik aliran modal asing, terbukti dengan masuknya dana dalam bentuk FX swap dan DNDF senilai sekitar US$8 hingga US$9 miliar. Destry menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan respons langsung terhadap arahan Presiden agar BI terus memantau dan memanfaatkan seluruh instrumen yang tersedia untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya