BI Perkuat Insentif untuk Tarik Kembali Modal Asing
Bank Indonesia memperbesar insentif dan optimalkan kebijakan likuiditas untuk menarik kembali arus modal asing pasca-keputusan MSCI.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 78x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Setelah terjadi penilaian baru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia, Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah strategis untuk menstabilkan pasar keuangan dan mendukung kembali arus modal asing. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa meski rupiah mengalami tekanan, kondisi tersebut dinilai masih dalam batas normal mengingat tekanan yang juga dirasakan di pasar regional. Upaya pemantauan terus dilakukan terhadap pergerakan arus modal keluar, terutama di sektor pasar modal.
Dalam dua hari terakhir, BI telah melakukan pembahasan intensif untuk menyusun respons yang lebih terfokus dan tepat sasaran. Fokus utama tetap pada menjaga stabilitas sistem keuangan, namun tetap berjalan selaras dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah yang diprioritaskan adalah menciptakan kondisi yang menarik bagi investor asing untuk kembali memasukkan dananya ke aset keuangan domestik, khususnya melalui instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Salah satu instrumen utama yang diperkuat adalah insentif transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), yang mampu mengurangi biaya lindung nilai hingga 45%. Insentif ini telah berlaku sejak bulan Juni hingga Oktober dan dirancang untuk memperbaiki daya saing imbal hasil aset lokal dibandingkan aset berdenominasi dolar AS. Dengan adanya repricing di pasar obligasi pemerintah dan peningkatan insentif, BI berharap spread imbal hasil antara aset domestik dan aset dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Selain insentif, BI juga memperkuat kebijakan likuiditas sebagai pendukung ekonomi dalam negeri. Salah satu langkah kunci adalah penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 2 persen, yang diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun. Tambahan likuiditas ini diharapkan dapat memperkuat transmisi kebijakan moneter dan mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor. BI menegaskan bahwa semua kebijakan yang diambil dirancang secara terarah dan berkelanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat ketahanan sistem keuangan nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Presiden Iran Masoud Pezeshkian akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada akhir Oktober di Moskow untuk membahas kerja sama ekonomi, energi, dan isu global tanpa penandatanganan dokumen.
24 Oktober 2026

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
AsetKu hadir dalam Jakarta Financial Festival 2026 untuk tingkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan digital secara bijak dan inklusif.
24 Oktober 2026

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Menteri Perindustrian optimistis produk fesyen dan kerajinan berbahan alami dari UMKM Indonesia mampu menembus pasar internasional berkat meningkatnya kesadaran global terhadap lingkungan dan kesehatan.
24 Oktober 2026

OJK Dorong Aktivitas Rekening Rp50 Ribu Agar Tak Jadi Dormant
OJK memperkuat edukasi dan pendampingan keuangan untuk memastikan rekening program Rp50 ribu tetap aktif, khususnya di kalangan pelajar dan masyarakat kelas menengah ke bawah.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Panas atau Dingin, Apakah Suhu Kopi Pengaruhi Kesehatan?
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.49 WITA

Empat Acara Besar Serentak Guncang GBK, Dinas Perhubungan Siapkan Langkah Antisipasi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.39 WITA

