Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BI Perkuat Respons Kebijakan Pasca Asesmen MSCI

Bank Indonesia memperkuat langkah antisipatif setelah asesmen MSCI, dengan diskusi intensif dua hari dan optimalkan insentif untuk dorong kembali arus modal asing.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 50x dibuka
BI Perkuat Respons Kebijakan Pasca Asesmen MSCI📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank Indonesia telah melakukan evaluasi mendalam terhadap dinamika pasar keuangan domestik pasca pengumuman asesmen Morgan Stanley Capital International (MSCI), dengan fokus utama pada stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Gubernur BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa selama dua hari, Dewan Gubernur menggelar rapat intensif untuk menyusun respons kebijakan yang tepat sasaran, menyusul tekanan terhadap pasar modal dan pergerakan kapital keluar. Meski rupiah mengalami depresiasi, BI menilai kondisi tersebut masih dalam kisaran normal mengingat ketidakpastian yang melanda pasar regional.

Upaya utama BI kini difokuskan pada pemulihan arus modal asing yang keluar, dengan strategi mengoptimalkan insentif bagi investor. Penekanan diberikan pada penguatan daya tarik aset keuangan domestik seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta pendanaan melalui pinjaman. Salah satu instrumen kunci yang dimaksimalkan adalah insentif transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), yang mampu menekan biaya lindung nilai hingga 45 persen bagi investor asing. Insentif ini telah berlaku sejak Juni hingga Oktober, sebagai bagian dari upaya menarik kembali modal yang mengalir keluar.

Destry menegaskan bahwa penyesuaian harga atau repricing pada SBN menjadi kunci strategi untuk meningkatkan imbal hasil relatif terhadap aset berdenominasi dolar AS. Dengan kombinasi insentif biaya hedging yang lebih besar dan peningkatan spread imbal hasil, BI berharap pasar domestik menjadi lebih menarik secara kompetitif. Fokus utama tetap pada stabilitas sistem keuangan, namun tetap mempertimbangkan momentum pertumbuhan ekonomi agar tidak terganggu oleh kebijakan yang terlalu ketat.

BI yakin bahwa pendekatan terarah, yang menggabungkan penyesuaian harga aset dan pemberian insentif, dapat memicu kembali arus modal masuk secara berkelanjutan. Dengan demikian, stabilitas nilai tukar rupiah dapat dipertahankan di tengah tekanan global, sekaligus menjaga keseimbangan antara kestabilan dan pertumbuhan ekonomi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya