Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Melemah ke Rp18.000/AS

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% meski pasar memprediksi kenaikan, sementara rupiah berakhir melemah ke level Rp18.000 per dolar AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 60x dibuka
BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Melemah ke Rp18.000/AS📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah menguat sejenak di awal perdagangan, namun akhirnya melemah pada penutupan Rabu (21/10/2026), menetapkan posisi akhir di Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan penurunan sebesar 0,11% atau 20 poin dibandingkan level penutupan sebelumnya pada Rp17.980/AS. Pergerakan harian berlangsung dalam rentang Rp17.964 hingga Rp18.010, dengan tekanan utama berasal dari dinamika pasar global dan kebijakan moneter AS yang tetap ketat.

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Oktober 2026 menjadi sorotan utama. Keputusan ini mengejutkan pasar, karena dari 13 institusi keuangan yang disurvei, 10 di antaranya memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%, sementara suku bunga Lending Facility tetap di angka 6,50%, menunjukkan konsistensi kebijakan dalam menjaga stabilitas keuangan.

Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa kebijakan moneter yang tetap stabil ditujukan untuk menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ia menilai pelemahan rupiah pada 20 Oktober 2026 ke posisi Rp17.985/AS, melemah 0,61% dari akhir September, dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah, kebijakan moneter AS yang condong hawkish, serta volatilitas pasar saham global. BI menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, inflasi domestik, dan pertumbuhan ekonomi.

Untuk memperkuat daya tarik rupiah dan menarik arus modal asing, BI memperluas insentif kebijakan melalui penurunan biaya lindung nilai (hedging), pengembangan transaksi mata uang lokal (LCT), serta pemanfaatan instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Sejak Juni hingga 20 Oktober 2026, langkah-langkah ini berhasil menarik aliran modal masuk sebesar US$9,9 miliar. BI optimistis rupiah akan tetap stabil meskipun tekanan eksternal masih tinggi.

Dalam konferensi pers setelah RDG, Destry menegaskan bahwa stabilitas rupiah di masa depan didukung oleh komitmen BI, yield yang menarik, serta prospek ekonomi domestik yang baik. Ia menekankan bahwa kebijakan moneter tetap fleksibel dan responsif terhadap perubahan kondisi pasar, dengan fokus pada keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas nilai tukar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya