Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Blackout Berkepanjangan Hancurkan Simpanan ASI dan Ekonomi Warga

Pemadaman listrik selama hampir tiga hari di Batam dan Bintan menyebabkan kerugian besar, termasuk kehilangan stok ASI hingga 15 liter, kerusakan peralatan, dan kegagalan aktivitas ekonomi tanpa kompensasi memadai.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.40 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 52x dibuka
Blackout Berkepanjangan Hancurkan Simpanan ASI dan Ekonomi Warga📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Peristiwa pemadaman listrik massal yang melanda Batam dan Bintan pada 12 Oktober 2026 menimbulkan dampak mendalam bagi kehidupan sehari-hari warga. Lebih dari 411 ribu pelanggan terdampak, dengan sebagian wilayah di Bintan mengalami pemadaman hingga 52 jam. Dalam rentang waktu itu, banyak keluarga kehilangan stok ASI yang telah dikumpulkan berbulan-bulan, terutama bagi ibu menyusui yang membutuhkan cadangan untuk masa transisi MPASI. Salah satunya, Devina Wistiasari, dosen yang kehilangan sekitar 15 liter ASI perah hasil pengumpulan selama empat bulan—jumlah yang telah disiapkan sebagai antisipasi penurunan produksi saat kembali bekerja penuh.

Kerugian tidak hanya terjadi pada sektor kesehatan dan kebutuhan bayi. Di Bintan, aktivitas perikanan lumpuh total karena tidak ada pasokan es untuk menjaga hasil tangkapan. Nelayan di Kawal, seperti Johanes Jamil, melaporkan bahwa ribuan kilogram ikan harus dibuang karena tidak bisa disimpan. Dengan rata-rata kerugian per nelayan mencapai Rp2 juta per hari dan sekitar 100 nelayan terdampak, total kerugian diperkirakan mencapai Rp200 juta selama pemadaman. Harga kebutuhan pokok seperti Pertalite dan mi instan juga melonjak, menambah beban ekonomi masyarakat yang sudah terpuruk.

Pelaku usaha kecil, seperti Mulyadi pemilik usaha laundry, mengalami penurunan pendapatan hingga 60% karena mesin cuci dan peralatan lain tidak bisa beroperasi tanpa listrik. Satu-satunya layanan yang tetap berjalan adalah setrika uap manual, tetapi hal itu tidak cukup menopang kebutuhan ekonomi harian. Di sisi lain, dunia pendidikan terganggu parah. Siswa yang sebelumnya menjalani pembelajaran daring akibat kabut asap kembali terancam terputus saat listrik padam, mengakibatkan tidak bisa mengakses kelas virtual melalui Zoom. Orang tua seperti Isra mengaku anaknya hanya bisa bermain di rumah karena tidak bisa mengakses internet dan perangkat belajar.

Penyebab awal pemadaman yang disebutkan PLN Batam—masuknya hewan liar ke gardu induk—tidak cukup meyakinkan bagi sebagian warga. Banyak yang menilai penjelasan itu terlalu sederhana untuk menangani kegagalan sistem yang begitu besar. Pakar dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menekankan perlunya investigasi menyeluruh untuk mengungkap akar masalah, bukan hanya mencari pemicu awal. Di sisi lain, YLKI menyoroti ketidaksesuaian skema kompensasi berupa diskon tagihan listrik, yang dianggap tidak mencerminkan kerugian ekonomi, kesehatan, dan kerusakan barang yang dialami masyarakat selama blackout.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya