Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Buku Sastra 'Memburu Muhammad' Dihadapkan pada Tekanan dan Ancaman

Karya sastra kumpulan cerpen Feby Indirani menghadapi tekanan besar setelah diskusi publiknya dibatalkan, menyusul ancaman dan serangan daring yang masif, menimbulkan kekhawatiran terhadap kebebasan berekspresi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 09.07 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Buku Sastra 'Memburu Muhammad' Dihadapkan pada Tekanan dan Ancaman📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Karya sastra berjudul *Memburu Muhammad*, karya penulis Feby Indirani, kembali menjadi perbincangan setelah diskusi publiknya di Pekan Sastra Bogor dibatalkan tanpa penjelasan jelas. Insiden ini diduga dipicu oleh tekanan dan ancaman dari kelompok tertentu, yang kemudian menyebar luas melalui media sosial. Feby mengungkapkan bahwa dirinya menerima ancaman berulang melalui pesan pribadi, termasuk permintaan lokasi dan ancaman fisik, disertai kata-kata kasar dan menghina. Serangan ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga terkoordinasi, muncul dari banyak akun dengan pengikut minim, dengan pola bahasa yang hampir identik.

Feby menyebut serangan tersebut seperti "ikan piranha" yang sengaja dirancang untuk memancing reaksi emosional, bukan untuk dialog. Ia memilih menutup kolom komentar dan melaporkan pesan berisi ancaman, karena merasa ruang diskusi telah digantikan oleh tindakan provokatif. Ia juga menyampaikan keprihatinan atas dampaknya terhadap warganet yang mendukungnya, yang kini menjadi sasaran perundungan daring. Ancaman tersebut, menurutnya, telah melampaui batas kebebasan berpendapat dan bahkan menyeret isu gender, menunjukkan eskalasi kekerasan digital yang mengancam ruang kritis dalam masyarakat.

Buku ini, bagian kedua dari trilogi *Islamisme Magis*, telah diterbitkan sejak 2020 oleh Bentang Pustaka dan telah dicetak sekitar 2.000 eksemplar. Meski sudah lama tersedia, stoknya kini sulit ditemukan, bahkan sebelum insiden pembatalan diskusi. Penerbit memutuskan tidak mencetak ulang buku untuk menjaga integritas dan menghindari komersialisasi isu sensitif. Feby menyatakan kejutan atas keputusan ini, menilai bahwa karya yang sudah beredar selama bertahun-tahun justru kini dianggap berbahaya hanya karena konteks diskusi yang muncul tiba-tiba.

Melalui cerpen *Memburu Muhammad*, Feby menyampaikan kritik sosial melalui metode sastra *defamiliarisasi*, menggambarkan tokoh Abu Jahal—musuh Nabi Muhammad—yang mencari sosok Muhammad di zaman modern, namun tidak menemukan orang yang benar-benar sesuai dengan idealisasinya. Cerpen ini menggambarkan kegagalan masyarakat dalam meneladani nilai-nilai yang dianggap suci, bukan sebagai penghinaan, melainkan ajakan refleksi. Menurut Feby, kata “memburu” berasal dari KBBI, artinya “berusaha keras supaya mendapat”, sehingga pesan utamanya adalah tentang upaya mendekati sifat-sifat mulia Nabi Muhammad, bukan menyerang agama.

Feby menegaskan bahwa tidak ada niat menghina atau mengolok-olok umat Islam dalam karyanya, mengingat ia dibesarkan dalam lingkungan Muslim. Ia meminta masyarakat untuk membaca karya secara utuh sebelum memberi komentar, dan membuka ruang dialog terbuka bagi yang ingin mendiskusikan tema-tema dalam buku. Ia mengkhawatirkan bahwa insiden ini akan memicu *self-censorship* di kalangan kreator dan menakutkan masyarakat untuk membaca sastra yang mengusung kritik sosial. Menurutnya, melindungi kebebasan berekspresi bukan hanya soal seni, tetapi juga hak masyarakat untuk berpikir kritis dan menghadapi berbagai bentuk penindasan pengetahuan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya