Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Cabai Rawit Picu Inflasi Tertinggi di Kendari September 2026

Cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kota Kendari pada September 2026, berkontribusi 0,43 persen terhadap kenaikan indeks harga konsumen secara nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka

Kendari, ıNarasikita - Kenaikan harga cabai rawit pada bulan September 2026 menjadi faktor utama mendorong lonjakan inflasi di Kota Kendari. Berdasarkan data terbaru, komoditas tersebut menyumbang sebesar 0,43 persen terhadap kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara nasional, menempatkannya sebagai penyumbang inflasi tertinggi di wilayah Sulawesi Tenggara. Kenaikan ini terjadi akibat penurunan produksi akibat cuaca ekstrem dan gangguan distribusi akibat banjir di beberapa daerah sentra tanam.

Dalam laporan resmi, harga cabai rawit di pasar tradisional Kendari mencapai Rp45.000 per kilogram, meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di kisaran Rp32.000. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga pangan di sektor rumah tangga, terutama bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah. Pemerintah kota mengakui bahwa kondisi ini menimbulkan tekanan ekonomi yang cukup besar terhadap masyarakat, terutama di kawasan pinggiran kota.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Kendari menyatakan bahwa upaya stabilisasi harga sedang dilakukan melalui operasi pasar dan kolaborasi dengan petani lokal untuk mempercepat pasokan. “Kami telah mengkoordinasikan distribusi cabai dari daerah penghasil di Konawe dan Bombana untuk menstabilkan harga di pasar,” ujar pejabat tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka pendek untuk mengurangi beban konsumen.

Meski demikian, pihak terkait menekankan bahwa pemulihan harga akan membutuhkan waktu, mengingat kondisi iklim yang belum sepenuhnya membaik. Pemerintah juga meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap fluktuasi harga pangan dan memperhatikan ketersediaan stok di pasar tradisional. Fokus utama tetap pada peningkatan produktivitas pertanian dan perbaikan sistem logistik untuk menghindari keterulangan gejolak harga di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya