Selasa, 13 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Cakatinding Siap Jadi Identitas Budaya dan Wisata NTT

Pemkab Manggarai Barat galakkan Cakatinding sebagai ikon budaya dan daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 12.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Cakatinding Siap Jadi Identitas Budaya dan Wisata NTT📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat secara resmi memperkuat peran musik tradisional bambu Cakatinding sebagai simbol budaya Nusa Tenggara Timur. Langkah ini dilakukan melalui koordinasi antara Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan guna memperkuat identitas daerah di tengah tumbuhnya industri pariwisata di kawasan Labuan Bajo. Upaya ini bukan hanya sebatas pelestarian, melainkan bagian dari strategi pengembangan destinasi berkelanjutan yang berbasis nilai budaya autentik.

Musik Cakatinding, yang awalnya digunakan oleh petani sebagai alat pengusir hewan di lahan pertanian, kini telah berkembang menjadi bentuk seni pertunjukan yang kompleks dan adaptif. Dalam perkembangannya, instrumen ini mampu berkolaborasi dengan berbagai alat musik modern seperti gitar akustik, bass, biola, gong, dan kajon. Perjalanan Cakatinding mencapai puncaknya ketika 646 siswa dari Kecamatan Langke Rembong tampil secara massal dalam perayaan HUT RI 2004, lalu diperkenalkan secara nasional melalui Festival Musik Bambu se-NTT pada 2013.

Pada 21 Oktober 2022, Cakatinding secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Penetapan ini menjadi dasar kuat bagi pemerintah daerah untuk memperluas eksistensi alat musik tradisional tersebut. Fransiskus Selmas, Kepala Bidang Budaya Disparekrafbud Manggarai Barat, menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar mempertahankan masa lalu, melainkan menciptakan identitas yang relevan di masa depan.

Untuk memastikan keberlangsungan Cakatinding, Pemkab Manggarai Barat telah meluncurkan pelatihan bagi siswa SMA di seluruh kabupaten. Para peserta dibekali pengetahuan teknis mulai dari pemilihan bambu Pering tua, waktu pemotongan pada fase bulan mati, hingga penyetelan nada pentatonik khas daerah. Tujuan jangka panjangnya adalah menjadikan Cakatinding sebagai bagian rutin dalam kawasan wisata, ruang publik, serta produk ekonomi kreatif yang mampu memberdayakan masyarakat lokal secara berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya