Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China dan AS Diminta Kolaborasi Atas Kecerdasan Buatan

Presiden Xi Jinping menegaskan pentingnya kerja sama antara China dan AS dalam pengembangan kecerdasan buatan demi kebaikan umat manusia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 15.39 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 22x dibuka
China dan AS Diminta Kolaborasi Atas Kecerdasan Buatan📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Presiden China Xi Jinping menekankan bahwa ketegangan dalam bidang kecerdasan buatan (AI) antara China dan Amerika Serikat seharusnya tidak mengalahkan potensi kolaborasi yang jauh lebih besar. Dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, ia menekankan bahwa kedua negara sebagai pemimpin global dalam inovasi teknologi harus memilih jalan bersama, bukan saling menghindar atau bersaing secara merugikan.

Xi menekankan bahwa keunggulan teknologi masing-masing negara dapat dimanfaatkan secara sinergis, terutama dalam menghadapi tantangan bersama seperti penyalahgunaan AI, risiko etis, dan dampak sosial dari otomasi. Ia menyarankan agar kedua pihak membangun dialog terus-menerus untuk berbagi pandangan, membangun kerangka kerja sama, serta menetapkan batasan bersama terhadap penggunaan AI yang merugikan.

Dalam kesempatan yang sama, Xi menegaskan bahwa teknologi harus tetap berada di bawah kendali manusia. Ia menyerukan pendekatan pengembangan AI yang berbasis pada nilai kemanusiaan, dengan fokus pada kesejahteraan bersama dan keberlanjutan sosial. Menurutnya, AI bukan alat untuk dominasi, melainkan alat untuk memperkuat kemajuan peradaban manusia secara kolektif.

Pernyataan ini disampaikan dalam konteks pidato resmi di acara penyambutan di Gedung Putih, di mana Xi juga menegaskan bahwa kedua negara memiliki kapasitas dan tanggung jawab bersama dalam mengelola kecanggihan teknologi. Ia menekankan bahwa pengembangan AI harus selalu mengedepankan prinsip keamanan, transparansi, dan manfaat bagi masyarakat luas.

Tujuan utama dari pernyataan tersebut adalah menekankan bahwa kompetisi teknologi tidak harus berakhir dalam konflik, melainkan bisa menjadi fondasi bagi kerja sama strategis yang berkelanjutan. Dengan mengedepankan nilai bersama, kedua negara dapat memastikan bahwa inovasi dalam AI benar-benar menjadi kekuatan positif bagi umat manusia di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya