China dan AS Diminta Kolaborasi Atas Kecerdasan Buatan
Presiden Xi Jinping menegaskan pentingnya kerja sama antara China dan AS dalam pengembangan kecerdasan buatan demi kebaikan umat manusia.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 15.39 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 22x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Presiden China Xi Jinping menekankan bahwa ketegangan dalam bidang kecerdasan buatan (AI) antara China dan Amerika Serikat seharusnya tidak mengalahkan potensi kolaborasi yang jauh lebih besar. Dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, ia menekankan bahwa kedua negara sebagai pemimpin global dalam inovasi teknologi harus memilih jalan bersama, bukan saling menghindar atau bersaing secara merugikan.
Xi menekankan bahwa keunggulan teknologi masing-masing negara dapat dimanfaatkan secara sinergis, terutama dalam menghadapi tantangan bersama seperti penyalahgunaan AI, risiko etis, dan dampak sosial dari otomasi. Ia menyarankan agar kedua pihak membangun dialog terus-menerus untuk berbagi pandangan, membangun kerangka kerja sama, serta menetapkan batasan bersama terhadap penggunaan AI yang merugikan.
Dalam kesempatan yang sama, Xi menegaskan bahwa teknologi harus tetap berada di bawah kendali manusia. Ia menyerukan pendekatan pengembangan AI yang berbasis pada nilai kemanusiaan, dengan fokus pada kesejahteraan bersama dan keberlanjutan sosial. Menurutnya, AI bukan alat untuk dominasi, melainkan alat untuk memperkuat kemajuan peradaban manusia secara kolektif.
Pernyataan ini disampaikan dalam konteks pidato resmi di acara penyambutan di Gedung Putih, di mana Xi juga menegaskan bahwa kedua negara memiliki kapasitas dan tanggung jawab bersama dalam mengelola kecanggihan teknologi. Ia menekankan bahwa pengembangan AI harus selalu mengedepankan prinsip keamanan, transparansi, dan manfaat bagi masyarakat luas.
Tujuan utama dari pernyataan tersebut adalah menekankan bahwa kompetisi teknologi tidak harus berakhir dalam konflik, melainkan bisa menjadi fondasi bagi kerja sama strategis yang berkelanjutan. Dengan mengedepankan nilai bersama, kedua negara dapat memastikan bahwa inovasi dalam AI benar-benar menjadi kekuatan positif bagi umat manusia di masa depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Mengisi Baterai Semalaman: Aman atau Berisiko?
Mengisi ponsel semalaman tetap aman secara teknis, tetapi dapat mempercepat kerusakan baterai jika dilakukan tanpa pengaturan yang tepat.
26 September 2026

Mahasiswa Tantang Inovasi Teknologi di IKN
Final Kontes Robot Terbang Indonesia 2026 di IKN menampilkan 94 tim dari 43 kampus, menguji kemampuan wahana udara nirawak dalam konteks kota masa depan.
26 September 2026

Apple Luncurkan HP Lipat, Samsung Catat Lonjakan Penjualan
Peluncuran iPhone lipat pertama Apple justru mendorong kenaikan penjualan Galaxy Z Fold 8 di Korea Selatan sebesar 10 persen dalam pekan pertama.
26 September 2026

Redmi Note 17 Dilengkapi Proteksi 36 Bulan untuk Pengguna Jangka Panjang
Xiaomi meluncurkan Redmi Note 17 dan Redmi Note 17 5G dengan layanan purnajual hingga 36 bulan, menekankan keandalan jangka panjang bagi konsumen di Indonesia.
26 September 2026
Berita Lainnya

Paspor Dibungkus Alumunium, Apakah Benar Cegah Pencurian Data?
Sabtu, 26 September 2026, 17.53 WITA

Makanan Sehat untuk Hamster: Panduan Lengkap dari Pelet hingga Camilan
Sabtu, 26 September 2026, 17.50 WITA

SIM Wajib Diperpanjang Tiap 5 Tahun, Bukan Karena Administrasi
Sabtu, 26 September 2026, 17.48 WITA

Pemutihan Pajak Kendaraan Jateng Berlanjut Hingga Desember 2026
Sabtu, 26 September 2026, 17.47 WITA

Mobil-mobil Legendaris Dihentikan Produksi, Harga Bekasnya Masih Kompetitif
Sabtu, 26 September 2026, 17.47 WITA
Penyu Laut Langka Bertelur di Pantai California, Pertama Kali Diamati Secara Alami
Sabtu, 26 September 2026, 17.39 WITA

Australia Bentuk Satgas Tangani Akses AI Ilegal ke Data Kesehatan
Sabtu, 26 September 2026, 17.37 WITA

Demonstran Pro-Palestina Blokir Jalan di New York Usai Pidato Netanyahu
Sabtu, 26 September 2026, 17.36 WITA

