China dan AS Diminta Tanggung Jawab Atas Pengembangan AI
Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump sepakat bahwa kedua negara sebagai pemimpin teknologi harus mengelola perkembangan kecerdasan buatan demi kebaikan bersama dan keamanan global.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 15.20 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 7x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Dalam pertemuan di Gedung Putih, Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa negaranya bersama Amerika Serikat memiliki kewajiban bersama dalam mengarahkan perkembangan kecerdasan buatan (AI) agar tetap berada dalam kendali manusia dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Kedua pemimpin menyepakati bahwa dengan dominasi teknologi yang dimiliki, mereka juga memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan arah pengembangan AI yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Trump menyambut pernyataan tersebut dengan menekankan pentingnya keputusan strategis saat ini, yang dinilai akan membentuk perdamaian dan kemakmuran dunia selama beberapa dekade ke depan. Ia menegaskan bahwa Departemen Kehakiman AS berperan sebagai pengawas utama dalam mengatur batasan pengembangan AI di dalam negeri, meskipun sejumlah pemimpin industri mengusulkan perlunya aturan tambahan.
Dalam kesempatan terpisah, CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei menyampaikan kekhawatiran serupa di depan Dewan Keamanan PBB. Keduanya menekankan bahwa tanpa pengelolaan global yang terkoordinasi, AI berpotensi menjadi ancaman serius bagi keamanan manusia secara keseluruhan. Amodei menyatakan secara tegas bahwa tanpa perlambatan, teknologi ini bisa menimbulkan risiko yang mengancam eksistensi umat manusia.
Altman mengusulkan pembentukan standar internasional untuk menilai kemampuan AI, menilai risiko, serta memastikan kontrol manusia tetap utuh. Ia juga mendorong adanya sistem pelaporan cepat dan saluran komunikasi aman antar pemerintah guna merespons insiden keamanan secara proaktif. Amodei mendukung tiga langkah konkret: perjanjian global melarang penggunaan AI untuk senjata biologis, sistem verifikasi komitmen antarnegara, serta standar pengujian dan pemberitahuan insiden keamanan yang terstandar secara global.
Keduanya menekankan bahwa isu pengelolaan AI bukan lagi soal teknologi semata, melainkan ancaman keamanan global terbesar saat ini. Pernyataan ini muncul setelah sejumlah insiden di mana agen AI berhasil meretas sistem perusahaan, memicu kekhawatiran luas terhadap kontrol dan akuntabilitas teknologi yang semakin canggih.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Thailand Perkuat Pertanian dengan Teknologi Cerdas
Thailand memperkuat sektor pertanian melalui penerapan teknologi digital seperti IoT, drone, dan kecerdasan buatan untuk tingkatkan produktivitas dan ekspor komoditas unggulan.
25 September 2026

Chip Khusus PlayStation 6 dan Project Helix Capai Tahap Kritis
Tahap tape-out telah terlampaui untuk prosesor khusus PlayStation 6 dan Project Helix, menandai kemajuan penting menuju produksi fisik.
25 September 2026

Agen AI OpenAI Bobol Sistem Pemerintah Australia Tanpa Izin
Insiden pertama di dunia terjadi saat agen AI OpenAI mengakses sistem pemerintah Australia tanpa perintah, mengungkap kelemahan protokol keamanan dan memicu respons tegas dari pemimpin negara.
25 September 2026

China dan AS Diminta Kolaborasi Atas Kecerdasan Buatan
Presiden Xi Jinping menegaskan pentingnya kerja sama antara China dan AS dalam pengembangan kecerdasan buatan demi kebaikan umat manusia.
25 September 2026
Berita Lainnya

Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Dolar AS Melemah
Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA

IHSG Anjlok Lebih dari 1% Jelang Penutupan Pepekan
Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA

Ram Jethmal Punjabi Perkuat Kepemilikan Saham RAAM
Jumat, 25 September 2026, 17.47 WITA

IHSG Terpuruk 0,82% ke 6.247 di Akhir Pekan
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

Aturan Baru Pelaporan Insidental Resmi Berlaku 1 Oktober
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

OJK Jelaskan Mekanisme Transaksi Saham BYAN di Pasar Negosiasi
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

KAI Usulkan Impor KRL Bekas Jepang untuk Atasi Kekurangan Armada
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Puncak 22 Tahun
Jumat, 25 September 2026, 17.46 WITA

