Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Cina Jaga Netralitas di Konflik Yaman 2026

Beijing menegaskan kecaman terhadap serangan Houthi yang menewaskan warga sipil, sambil mempertahankan keseimbangan antara hubungan strategis dengan Iran dan Arab Saudi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.30 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 38x dibuka
Cina Jaga Netralitas di Konflik Yaman 2026📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Eskalasi konflik Yaman pada Oktober 2026 menarik perhatian global, terutama menyusul serangan terhadap infrastruktur penting di Arab Saudi dan serangan ke kompleks istana kepresidenan di Aden yang menyebabkan dua personel keamanan tewas. Serangkaian insiden ini menunjukkan bahwa perang yang awalnya bersifat domestik kini berubah menjadi pertarungan regional yang melibatkan kepentingan besar, termasuk Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara kunci di jalur perdagangan internasional. Dalam konteks ini, posisi Cina menjadi sorotan utama karena peran ekonomi dan geopolitik yang semakin menonjol di kawasan.

Cina menunjukkan sikap yang cermat dalam menyikapi krisis tersebut. Pada 12 Oktober 2026, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning, secara eksplisit mengecam serangan Houthi yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sipil. Pernyataan itu mencatat perubahan dalam pendekatan Beijing, yang sebelumnya cenderung netral dan menghindari penunjukan pihak yang bertanggung jawab secara langsung. Kini, Beijing secara terbuka menyatakan penolakan terhadap tindakan yang melanggar hukum internasional dan menyerang warga sipil.

Namun, meski menunjukkan kecaman, Cina tetap menjaga keseimbangan kepentingan. Beijing secara aktif memelihara hubungan strategis dengan Iran, salah satu pendukung utama Houthi, sekaligus menjaga kerja sama ekonomi yang erat dengan Arab Saudi—salah satu pemimpin koalisi militer di Yaman. Kedua hubungan ini menjadi fondasi penting bagi kebijakan luar negeri Cina, yang berupaya menghindari keterlibatan langsung dalam konflik, sambil menjamin keamanan jalur maritim Laut Merah.

Tujuan utama kebijakan Cina adalah menjaga stabilitas jalur perdagangan global, yang sangat vital bagi ekonomi dunia. Dengan mempertahankan posisi netral dan menekankan diplomasi damai, Beijing berupaya menjadi penengah yang dapat dipercaya tanpa mengorbankan kepentingan ekonomi atau kemitraan strategis. Sikap ini menunjukkan bahwa meski tidak ikut serta dalam operasi militer, Cina tetap memiliki pengaruh signifikan dalam dinamika krisis regional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya