Danantara Diminta Dukung Proyek Bensin dari Batu Bara
Ahli pertambangan menyarankan pemerintah melibatkan Danantara untuk menopang pembiayaan proyek konversi batu bara menjadi bensin demi kemandirian energi.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 17.55 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto diminta mempertimbangkan peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dalam pengembangan bensin berbahan baku batu bara. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy, keterlibatan Danantara dinilai strategis karena proyek tersebut menuntut investasi besar yang mungkin sulit ditanggung sektor swasta secara mandiri.
Ia menekankan bahwa kolaborasi dengan BUMN seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero) dapat menjadi fondasi utama dalam menjalankan proyek konversi batu bara menjadi bensin. Dengan memanfaatkan kapasitas produksi batu bara dari PTBA dan jaringan distribusi Pertamina, pelaksanaan proyek dapat lebih efisien dan terintegrasi secara nasional.
Secara teknis, konversi batu bara menjadi bensin telah terbukti berhasil di negara lain, khususnya Afrika Selatan melalui perusahaan Sasol dengan teknologi Coal to Liquid (CTL). Namun, tantangan utama bukan pada kemampuan teknologi, melainkan pada aspek ekonomi. Proyek ini membutuhkan modal besar, baik untuk pembangunan fasilitas maupun operasional berkelanjutan, sehingga risiko finansialnya tinggi.
Prabowo menyatakan bahwa inovasi tersebut berasal dari riset akademisi Indonesia, terutama dari fakultas teknik. Ia mencontohkan keberhasilan program B50 sebagai bukti bahwa energi dalam negeri dapat menjadi solusi. Dengan tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli, kemandirian energi telah terbukti, dan proyek bensin dari batu bara diharapkan menjadi langkah berikutnya untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Tujuan utama dari program ini adalah menciptakan ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia berpotensi menjadi produsen energi berkelanjutan tanpa harus mengandalkan impor.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Bensin dari Batu Bara Butuh Investasi Raksasa
Pengolahan batu bara menjadi bensin memungkinkan secara teknis, namun tantangan utama terletak pada biaya tinggi dan keekonomian proyek.
23 September 2026

Prabowo Dorong Transformasi Batu Bara Jadi BBM Nasional
Pemerintah berupaya mengoptimalkan cadangan batu bara untuk produksi bahan bakar minyak, sebagai bagian dari strategi kemandirian energi di tengah ketidakpastian global.
22 September 2026

Prioritaskan UMKM dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
Menteri ESDM menegaskan komitmen pemerintah memprioritaskan UMKM dalam sektor pertambangan demi pemerataan ekonomi dan ketahanan nasional.
22 September 2026

PNBP Pertambangan Naik Meski Produksi Turun
Penerimaan negara bukan pajak dari sektor batu bara dan nikel melonjak hingga Rp 108 triliun per 31 Agustus 2026, meski produksi bulanan dikurangi secara signifikan.
22 September 2026
Berita Lainnya

DPD RI Dorong RUU Kecerdasan Buatan dengan Kolaborasi Lembaga Terkemuka
Rabu, 23 September 2026, 17.57 WITA

Rapat Istana Bahas Ekspansi Pendidikan Gratis hingga Perguruan Tinggi
Rabu, 23 September 2026, 17.56 WITA

KRL INKA Terlambat dan Ditarik dari Operasi
Rabu, 23 September 2026, 17.56 WITA

Petani Tebu Minta HET Gula Dicabut Akibat Beban Pupuk Naik
Rabu, 23 September 2026, 17.56 WITA

Pemerintah Siapkan Insentif Pajak Rp576 Triliun untuk Dorong Ekonomi 2026
Rabu, 23 September 2026, 17.55 WITA

Manajer Koperasi Desa Ditetapkan sebagai Pegawai BUMN dengan Kontrak Dua Tahun
Rabu, 23 September 2026, 17.55 WITA

Defisit APBN 2026 Diproyeksikan Meningkat Jadi 2,85% dari PDB
Rabu, 23 September 2026, 17.55 WITA

BI Perkuat Insentif Swap Lindung Nilai untuk Stabilkan Rupiah
Rabu, 23 September 2026, 17.55 WITA

