Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Deepfake: Ancaman Digital yang Mengancam Keaslian Informasi

Teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan kini makin canggih dan sering dimanfaatkan untuk penipuan serta penyebaran hoaks, memerlukan kehati-hatian ekstra dalam mengonfirmasi keaslian konten.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 21.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Deepfake: Ancaman Digital yang Mengancam Keaslian Informasi📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan telah membuka peluang baru dalam penciptaan konten digital, namun di sisi lain juga membuka celah bagi penyalahgunaan yang berpotensi merusak kepercayaan publik. Salah satu bentuk manipulasi digital yang kian mengkhawatirkan adalah deepfake, yaitu rekaman video, audio, atau gambar yang dimanipulasi secara digital menggunakan algoritma pembelajaran mesin. Konten semacam ini mampu membuat seseorang terlihat melakukan atau mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah terjadi, bahkan secara visual dan akustik terlihat sangat meyakinkan.

Berdasarkan laporan tahun 2025 dari FBI, jumlah pengaduan terkait penipuan berbasis AI mencapai 22.364 kasus dengan kerugian mencapai hampir 893 juta dolar AS. Dalam banyak kasus, pelaku memanfaatkan teknologi untuk menyusun profil palsu, meniru suara, atau memproduksi video yang menampilkan tokoh publik maupun orang terdekat dengan detail tinggi. Bahkan, dalam beberapa insiden, penipu menggunakan rekaman suara atau video yang terlihat autentik untuk meminta transfer uang atau informasi sensitif dari korban.

Untuk mengenali kemungkinan adanya deepfake, pengguna perlu mewaspadai beberapa indikasi. Gerakan bibir yang tidak sinkron dengan suara, perubahan intonasi yang tidak alami, atau suara yang terasa datar bisa menjadi tanda awal. Selain itu, perhatikan juga bagian wajah seperti kedipan mata yang tidak wajar, warna kulit yang tidak alami, atau batas antara rambut dan latar belakang yang terlihat tidak menyatu. Namun, tanda-tanda visual ini tidak selalu menjamin keaslian, karena faktor teknis seperti kualitas kamera dan pencahayaan juga memengaruhi tampilan konten.

Pendekatan paling aman adalah memverifikasi konteks dan sumber informasi. Jika sebuah video menampilkan pernyataan mengejutkan dari tokoh terkenal, jangan langsung percaya hanya berdasarkan penampilan visual. Cek kembali melalui sumber resmi, media terpercaya, atau akun resmi yang bersangkutan. Hindari menyebarluaskan konten yang mencurigakan tanpa konfirmasi. FBI juga menekankan pentingnya tidak terburu-buru merespons permintaan mendesak, terutama yang datang melalui panggilan video atau pesan suara dari pihak yang tampak familiar.

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, kecermatan individu menjadi kunci utama dalam melindungi diri dari manipulasi digital. Meskipun deepfake bisa digunakan untuk keperluan kreatif, pendidikan, dan hiburan, risikonya sangat tinggi jika disalahgunakan untuk menipu atau merusak reputasi. Oleh karena itu, kewaspadaan, verifikasi lintas sumber, dan sikap tidak langsung mempercayai konten yang terasa terlalu meyakinkan tetap menjadi langkah paling efektif dalam menghadapi ancaman ini.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya