Demonstrasi Prancis Ricuh, Massa Protes Biaya Hidup
Aksi protes nasional di Paris dan Marseille memicu bentrokan dengan polisi akibat ketidakpuasan terhadap kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup yang tinggi.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 12.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Ribuan warga Prancis turun ke jalan pada Sabtu (24/10/2026) dalam aksi demonstrasi nasional yang melibatkan gerakan Rompi Kuning, serikat pekerja, pelajar, dan mahasiswa. Aksi yang berlangsung di dua kota utama, Paris dan Marseille, dipicu oleh kekhawatiran terhadap beban ekonomi yang semakin membengkak, terutama terkait kenaikan harga bahan bakar dan ketimpangan ekonomi. Mereka menuntut kebijakan pemerintah yang lebih progresif dan transparan dalam menangani krisis kehidupan sehari-hari.
Di Marseille, situasi memanas saat massa membakar barang-barang di tengah jalan, termasuk papan bertuliskan “Ketidaksetaraan Kesempatan” yang menjadi simbol perlawanan terhadap ketimpangan sosial. Beberapa demonstran membawa bendera nasional Prancis dan suar asap sebagai alat komunikasi massa, sambil menyuarakan tuntutan mereka dengan teriakan yang terdengar dari jarak jauh. Aksi ini menunjukkan intensitas emosional yang tinggi terhadap ketidakadilan ekonomi yang dirasakan secara luas.
Di Paris, situasi memburuk ketika sekelompok demonstran bertopeng mendirikan barikade di tengah jalan utama, menghalangi pergerakan kendaraan dan menantang kehadiran aparat. Polisi antihuru-hara segera dikerahkan untuk menanggulangi situasi, dengan menghadapi massa menggunakan meriam air dan tindakan pengendalian massa lainnya. Bentrokan fisik terjadi di beberapa titik, menandai eskalasi ketegangan yang terus berlanjut sejak gelombang protes sebelumnya.
Aksi demonstrasi ini menjadi bukti bahwa permasalahan ekonomi dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah belum kunjung selesai. Meski tidak disebutkan secara eksplisit, tujuan utama massa tetap sama: menekan pemerintah agar meninjau kembali kebijakan yang dianggap merugikan rakyat kecil, terutama dalam hal harga energi dan perlindungan sosial.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi menyangkal tudingan Arab Saudi bahwa rudal mereka menargetkan Makkah dan Madinah, menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan besar.
25 Oktober 2026

4 Pilot Tewas dalam Tabrakan Pesawat Latih di Filipina
Dua pesawat latih SF-260 Angkatan Udara Filipina bertabrakan saat latihan, menewaskan empat pilot di Pangkalan Udara Fernando, Batangas.
25 Oktober 2026

Supervisor 34 Tahun Cari Kerja Sesuai Pengalaman
Seorang supervisor berusia 34 tahun berjuang menemukan pekerjaan yang sesuai keterampilan setelah kontrak kerja berakhir, dengan pilihan terbatas dan harapan tetap optimistis meski harus memulai dari bawah.
24 Oktober 2026

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Nenek asal Connecticut berhasil menutupi biaya tinggal di panti jompo sebesar Rp190 juta per bulan melalui pendapatan dari media sosial.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Gubernur Tegaskan Kedisiplinan Waktu Jadi Syarat Utama JRF 2026
Minggu, 25 Oktober 2026, 12.28 WITA

Ribuan Orang Ditahan dalam Aksi Protes Prancis Terkait Biaya Hidup
Minggu, 25 Oktober 2026, 12.28 WITA

Raharjati Raih Medali Perak Panjat Tebing Dunia di Santiago
Minggu, 25 Oktober 2026, 12.28 WITA

OJK Tekankan Kewaspadaan dalam Manfaatkan Pembiayaan Digital
Minggu, 25 Oktober 2026, 12.27 WITA

Moto2 dan Moto3 Australia Dibatalkan Akibat Cuaca Ekstrem
Minggu, 25 Oktober 2026, 12.27 WITA

Vape Berisiko Sebabkan Cedera Paru dan Penyalahgunaan Narkoba
Minggu, 25 Oktober 2026, 12.27 WITA

Prancis Siap Blokir Media Sosial Jelang Demo Rompi Kuning
Minggu, 25 Oktober 2026, 12.27 WITA

Indonesia Tekankan Konservasi Air Lewat Pengelolaan Daratan Terpadu
Minggu, 25 Oktober 2026, 12.26 WITA

