Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dolar AS Tembus Rp18.079, Tekanan Global Picu Melemahnya Rupiah

Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.079 per dolar AS pada 23 Oktober 2026, dipengaruhi penguatan yield obligasi AS dan tekanan aliran modal keluar akibat keputusan MSCI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 15.36 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 13x dibuka
Dolar AS Tembus Rp18.079, Tekanan Global Picu Melemahnya Rupiah📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatatkan penurunan signifikan pada siang hari, Jumat (23/10/2026), berada di posisi Rp18.079 per dolar AS. Angka ini lebih melemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di Rp18.045, menunjukkan tekanan berkelanjutan terhadap mata uang domestik. Kenaikan nilai tukar dolar ini mencerminkan dinamika pasar global yang terus mendukung dominasi dolar AS dalam konteks pergerakan mata uang dunia.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia, Firman Mochtar, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS didorong oleh yield obligasi pemerintah AS yang bertahan di atas 5% dalam periode panjang. Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor global, mengurangi minat terhadap instrumen keuangan di negara berkembang seperti Indonesia. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat, yang berdampak langsung pada pelemahan rupiah.

Selain faktor global, tekanan domestik juga ikut berkontribusi. Salah satunya adalah prospek diskusi MSCI mengenai klasifikasi pasar saham Indonesia sebagai pasar independen (Standalone market), yang memicu kekhawatiran investor asing terhadap likuiditas dan arus modal. Pergerakan ini menimbulkan aliran modal keluar yang berdampak pada tekanan lebih lanjut terhadap nilai tukar rupiah. Firman menegaskan bahwa kombinasi tekanan global dan domestik menjadi pemicu utama melemahnya rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Dalam konteks yang lebih luas, indeks dolar AS (DXY) telah mencapai level 101, menunjukkan penguatan terhadap mata uang negara maju. Penguatan indeks ini secara otomatis memperlemah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena investor cenderung memindahkan aset ke aset yang lebih aman. Dengan kondisi ini, BI terus memantau perkembangan pasar secara intensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kredibilitas kebijakan moneter.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya