Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Tantangan Global

Pemerintah melaporkan kondisi ekonomi makro Indonesia tetap stabil dan resilien, dengan defisit APBN dipertahankan di 2,85% PDB, sementara inflasi inti terkendali di 2,8% hingga September 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 68x dibuka
Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Tantangan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tekanan global yang belum mereda. Dalam rapat koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Kepresidenan, Menteri Keuangan menyampaikan bahwa perekonomian makro tetap terkendali, termasuk dalam hal transaksi dan stabilitas fiskal. Laporan ini menjadi dasar bagi kebijakan fiskal yang berkelanjutan hingga akhir tahun.

Pemerintah menegaskan komitmen untuk mempertahankan belanja negara pada level yang lebih tinggi dibandingkan kuartal empat tahun sebelumnya. Langkah ini diharapkan mendorong aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat, khususnya melalui penyaluran bantuan sosial dan pangan yang telah berjalan sejak awal kuartal keempat. Dengan peningkatan pengeluaran pemerintah, diharapkan konsumsi domestik dan layanan publik dapat tumbuh secara seimbang.

Defisit anggaran tetap dipertahankan pada angka 2,85% terhadap PDB, sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Pemerintah menilai angka ini sebagai batas aman yang dapat dipertahankan tanpa mengganggu stabilitas fiskal jangka panjang. Kebijakan ini menjadi fokus utama hingga akhir tahun, dengan penekanan pada efisiensi dan akuntabilitas penggunaan dana.

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan inflasi inti masih berada pada level 2,8% pada bulan September, menunjukkan tekanan harga yang terkendali. Namun, inflasi pangan atau volatile food mencapai 5%, yang menjadi perhatian khusus. Gubernur BI menegaskan sinergi dengan Kementerian Pertanian untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan dan melindungi daya beli masyarakat. BI juga memastikan kestabilan nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar, termasuk di pasar spot, NDF, dan DNDF, serta insentif biaya hedging.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan komitmen untuk melanjutkan reformasi pasar modal dengan fokus pada transparansi, likuiditas, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran seperti coordinated trading. Ketua OJK menekankan pentingnya enforcement yang konsisten untuk menciptakan lingkungan investasi yang adil dan terpercaya, sehingga menarik minat investor domestik maupun asing.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya