Ekspor Batu Bara dan Nikel Dorong PNBP Minyak Bumi Naik
Nilai ekspor batu bara dan nikel Indonesia melonjak hingga akhir 2026, mendorong Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor mineral mencapai Rp 165 triliun, melampaui target awal.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 17x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pendapatan negara dari sektor mineral dan batu bara diperkirakan mencapai Rp 165 triliun pada akhir tahun 2026, melampaui target awal sebesar Rp 133,63 triliun. Angka ini didukung kenaikan nilai ekspor batu bara dari US$ 21 miliar pada periode Januari-September 2025 menjadi US$ 23,71 miliar dalam periode yang sama tahun ini. Meski volume ekspor turun dari 374 juta ton menjadi 343 juta ton, kenaikan harga global mampu menopang kenaikan pendapatan secara signifikan.
Pemaparan ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara. Ia menekankan bahwa pertumbuhan pendapatan terjadi meski produksi batu bara mengalami penyesuaian sesuai kebijakan pemerintah. Dengan realisasi PNBP hingga Januari-Oktober 2026 mencapai Rp 127,74 triliun atau 98,42% dari target, proyeksi akhir tahun menunjukkan surplus sekitar Rp 30 triliun dibandingkan target awal.
Di sisi lain, ekspor nikel juga menunjukkan tren positif. Hingga Agustus 2026, nilai ekspor nikel mencapai US$ 24,55 miliar, naik dari US$ 21,22 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini menjadi kontribusi penting dalam pencapaian target PNBP dan mendukung kinerja fiskal negara, khususnya dalam menopang defisit anggaran serta pembiayaan subsidi bahan bakar minyak.
Pemerintah menilai capaian ini sebagai bukti efektivitas kebijakan hilirisasi dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dengan pendapatan yang meningkat meski volume ekspor turun, Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi sektor energi dan mineral di tengah dinamika pasar global. Capaian ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi pemulihan fiskal dan penguatan posisi ekonomi nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Rantai Pasok Tangguh Kunci Optimalisasi Nilai Mineral Kritis
Investasi terkoordinasi dan rantai pasok yang kuat menjadi kunci utama untuk mengeksploitasi nilai tambah tinggi dari mineral kritis di Indonesia.
24 Oktober 2026

Antam Siap Kelola Tambang Emas Baru di Papua
Pemerintah menutup operasional tambang emas PT Kristalin Eka Lestari di Nabire dan menyerahkan kawasan seluas 275,36 hektare kepada PT Aneka Tambang Tbk untuk pengelolaan berkelanjutan.
24 Oktober 2026

ANTAM Perkuat Fondasi Bisnis untuk Nilai Tambah Jangka Panjang
Perusahaan tambang nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan di semester pertama 2026, dengan pendapatan Rp62,71 triliun dan laba naik 34%, seiring fokus pada hilirisasi dan optimalisasi operasional.
24 Oktober 2026

Bahlil Usung PNBP Batu Bara Rp165 T untuk Tutup Defisit BBM
Menteri ESDM membidik penerimaan negara bukan pajak dari batu bara tembus Rp165 triliun pada 2026, lebih tinggi dari target APBN, demi menopang defisit subsidi BBM.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

