Kamis, 24 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

El Nino 2024 Berpotensi Pecahkan Rekor Milenial

Fenomena El Nino tahun ini diperkirakan mencapai intensitas tertinggi dalam 1.000 tahun terakhir, dengan suhu laut Pasifik melampaui rekor 2015, berdampak pada cuaca ekstrem dan ancaman pangan global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 09.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
El Nino 2024 Berpotensi Pecahkan Rekor Milenial📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik telah melampaui angka 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991–2020, menandai lonjakan terbesar dalam sejarah pemantauan. Angka ini sedikit lebih tinggi dari rekor sebelumnya yang dicatat pada akhir 2015, saat mencapai 3,02 derajat Celsius. Data ini dikumpulkan dari pemantauan berkelanjutan oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), dan menjadi indikator utama kekuatan El Nino saat ini.

Pengukuran lain, yakni Indeks Niño 3.4, juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, berada hanya 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015. Meskipun selisihnya kecil, kenaikan ini menunjukkan bahwa El Nino saat ini berada di ambang kondisi super, yang biasanya terjadi ketika anomali suhu melebihi 2 derajat Celsius. Proyeksi dari 14 model iklim menunjukkan bahwa pada November dan Desember 2024, suhu bisa mencapai sekitar 4 derajat Celsius di atas rata-rata, sebuah angka yang belum pernah tercatat dalam satu milenium terakhir.

Dampak dari pemanasan ekstrem ini sudah mulai terasa di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, kekeringan memicu kebakaran hutan yang melampaui rekor sebelumnya, sementara kualitas udara menurun hingga mencapai tingkat berbahaya bagi kesehatan. Di India, penurunan curah hujan monsun mengancam produksi pangan, sementara di Amerika Tengah dan Karibia, kekeringan menyebabkan gagal panen. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa dampak El Nino bisa mendorong hingga 50 juta orang mengalami kelaparan akut.

Para ilmuwan menekankan bahwa El Nino bukan hanya fenomena alam biasa, tetapi berinteraksi dengan pemanasan global yang disebabkan aktivitas manusia. Profesor Friederike Otto dari Imperial College London menegaskan bahwa meskipun El Nino bersifat sementara, kejadian ini terjadi pada suhu dasar Bumi yang terus naik akibat emisi karbon. Akibatnya, ekstrem cuaca yang terjadi—baik panas ekstrem, kekeringan, maupun hujan deras—menjadi lebih intens dan berdampak lebih luas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya