Selasa, 13 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gerhana Matahari Total 2027 Dinilai Terlama Abad Ini

Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2027 diproyeksikan menjadi fenomena terpanjang sepanjang abad ke-21, dengan durasi maksimum hingga 6 menit 23 detik di wilayah Mesir.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 12x dibuka
Gerhana Matahari Total 2027 Dinilai Terlama Abad Ini📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada 2 Agustus 2027, dunia akan menyaksikan salah satu fenomena astronomi paling langka dalam seabad terakhir: Gerhana Matahari Total yang diperkirakan berlangsung hingga 6 menit 23 detik di kawasan Luxor, Mesir. Durasi ini melampaui semua gerhana sebelumnya dalam dekade terakhir, termasuk yang terjadi di Amerika Utara pada 2024 dan sebelumnya di 2026. Fenomena ini akan berpusat di jalur totalitas yang melintasi wilayah barat Arab Saudi, termasuk Mekah, di mana matahari akan tertutup penuh oleh bulan selama sekitar lima menit.

Pada puncak totalitas, siang hari berubah menjadi gelap gulita, memungkinkan pengamat melihat bintang dan planet yang biasanya hanya tampak di malam hari. Suhu udara diperkirakan turun hingga 10 derajat Celsius, menciptakan kondisi alam yang dramatis. Di wilayah yang dilintasi, seperti Cadiz dan Malaga di Spanyol Selatan, Tangier di Maroko, serta Jeddah di Arab Saudi, masyarakat akan menyaksikan perubahan dramatis pada cahaya dan suhu atmosfer.

Korona matahari—lapisan atmosfer terluar yang biasanya tak terlihat—akan tampak sebagai cahaya tipis yang memanjang dari tepi bulan yang menghalangi matahari. Fenomena ini hanya mungkin terjadi karena kombinasi unik: bulan berada pada jarak terdekat (perigee), matahari pada jarak terjauh (apogee), serta jalur gerhana melintasi kawasan ekuatorial. Kombinasi ini sangat jarang terjadi, membuat gerhana 2027 menjadi momen langka bagi ilmuwan dan pengamat langit.

Dalam konteks astronomi, gerhana semacam ini hanya terjadi di Bumi karena ukuran dan jarak bulan yang tepat relatif terhadap matahari. Menurut ilmuwan NASA, Kelly Korreck, fenomena ini merupakan keunikan yang belum ditemukan di planet lain. Ia menekankan bahwa kondisi yang memungkinkan pengamatan totalitas secara langsung hanya ada di satu planet yang diketahui—yakni Bumi.

Untuk keamanan, penggunaan kacamata gerhana khusus dengan standar ISO 12312-2 mutlak diperlukan saat tidak dalam fase totalitas. Kacamata ini jauh lebih gelap dibanding kacamata hitam biasa dan dirancang untuk melindungi mata dari sinar matahari yang berbahaya. Fenomena ini bukan sekadar peristiwa visual, tetapi juga peluang ilmiah dan pengalaman alam yang mendalam bagi masyarakat yang berada di jalur totalitas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya