Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gilingan Tuntaskan 60% Sampah Organik Lewat Komposer Berbasis Komunitas

Fasilitas komposer di Gilingan, Surakarta, berhasil menyelesaikan 60% permasalahan sampah organik melalui kolaborasi pengelolaan berkelanjutan dan edukasi masyarakat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 42x dibuka
Gilingan Tuntaskan 60% Sampah Organik Lewat Komposer Berbasis Komunitas📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah tantangan pengelolaan sampah di wilayah padat penduduk, Gilingan, Banjarsari, Surakarta, menunjukkan terobosan nyata dalam penanganan limbah organik. Melalui fasilitas komposer yang dibangun secara kolaboratif, sekitar 60% beban sampah organik rumah tangga berhasil diminimalkan, menjadikan wilayah ini sebagai contoh penerapan sistem pengolahan berbasis komunitas yang efektif.

Fasilitas ini didukung oleh Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) melalui kerja sama strategis dengan ResikPlus, platform konsultan lingkungan yang berfokus pada edukasi dan pengelolaan sampah. Upaya ini dirancang untuk mengatasi keterkaitan antara ketersediaan air bersih dan kualitas lingkungan, di mana penanganan sampah yang buruk dapat memicu risiko kesehatan, terutama di kawasan perkotaan.

Komposer berkapasitas 2.000 liter mampu mengolah sisa makanan menjadi pupuk kompos dalam waktu dua bulan. Dengan mengurangi volume sampah organik hingga 80%, setiap rumah tangga yang terlibat hanya menghasilkan 5 hingga 10 kilogram kompos dari 30 kilogram limbah awal—dengan rata-rata kandungan air mencapai 75%. Proses ini sejalan dengan regulasi nasional, termasuk Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, yang mewajibkan pengelolaan sampah secara terintegrasi dan membatasi pengiriman sampah ke TPA hanya untuk jenis residu.

Pengelolaan sampah organik di Gilingan diharapkan mampu menyerap 80% dari total limbah organik pada tahun-tahun mendatang. Dengan pendekatan partisipatif dan edukasi berkelanjutan, program ini tidak hanya mengurangi tekanan terhadap Tempat Pembuangan Akhir, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi lokal melalui produksi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan kebun komunitas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya