Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Guruh Soekarnoputra Wafat, Pencipta Lagu Legendaris Berpulang

Seniman legendaris Guruh Soekarnoputra meninggal dunia di usia 73 tahun, meninggalkan warisan musik dan tari yang mendalam bagi budaya Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 17.51 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Guruh Soekarnoputra Wafat, Pencipta Lagu Legendaris Berpulang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama Indonesia Soekarno, tutup usia pada Sabtu (26/9) di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Ia menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan akibat penyakit yang dideritanya. Kabar wafatnya dikonfirmasi langsung oleh petinggi PDIP, Hasto Kristiyanto, yang menyampaikan duka mendalam atas kepergian sosok yang selama ini menjadi bagian dari keluarga besar partai tersebut.

Guruh dikenal sebagai tokoh kreatif yang memadukan musik modern dengan nuansa tradisional Jawa dan Bali. Ia tak hanya sebagai pencipta lagu, tetapi juga pelopor dalam pengembangan seni tari dan musik kontemporer di Tanah Air. Salah satu karya paling berpengaruhnya adalah album *Guruh Gipsy*, yang dirilis bersama grup musik Gipsy yang beranggotakan tokoh-tokoh legendaris seperti Chrisye, Keenan Nasution, dan Abadi Soesman. Album ini dinilai sebagai salah satu karya terbaik dalam sejarah musik Indonesia, bahkan dipilih sebagai album terbaik kedua sepanjang masa oleh Rolling Stones Indonesia pada 2007.

Lagu-lagu ciptaannya telah menjadi bagian dari kenangan kolektif generasi Indonesia. *Kala Sang Surya Tenggelam*, yang pertama kali dibawakan Dhenok Wahyudi untuk film *Ali Topan Anak Jalanan* tahun 1977, kemudian menjadi ikon saat dinyanyikan Chrisye dalam album *Sabda Alam* 1978. Hingga kini, lagu ini tetap hidup melalui versi re-interpretasi Nadin Amizah sebagai soundtrack serial *Gadis Kretek* di Netflix. Begitu pula dengan *Galih dan Ratna*, yang menjadi simbol cinta remaja melalui film *Gita Cinta dari SMA* dan sekuelnya, serta *Anak Jalanan*, yang menggambarkan realitas sosial melalui musik yang menyentuh.

Lagu *Mahadaya Cinta*, yang dibawakan Kris Dayanti pada 2004 dalam album *Cahaya*, juga menjadi bukti kekuatan musik Guruh dalam menyampaikan pesan universal tentang kasih dan persatuan. Dengan nada yang puitis dan aransemen yang kaya, lagu ini menggambarkan cinta sebagai kekuatan paling dahsyat di dunia. Warisan karyanya tidak hanya tercatat dalam catatan sejarah musik, tetapi terus hidup dalam setiap nada yang dinyanyikan, menjadi saksi suara dan jiwa Indonesia yang tak pernah padam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya