Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Guterres dan Pezeshkian Bahas Solusi Diplomasi untuk Selat Hormuz

Sekjen PBB dan Presiden Iran sepakat perlu dialog damai untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 15.21 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 7x dibuka
Guterres dan Pezeshkian Bahas Solusi Diplomasi untuk Selat Hormuz📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengadakan pertemuan langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat (25/9), di mana fokus utama adalah penyelesaian krisis di Timur Tengah dan kondisi terkini di Selat Hormuz. Dalam pertemuan tersebut, keduanya menekankan pentingnya pendekatan diplomatik guna mengatasi ketegangan yang berdampak pada keamanan maritim global. Guterres menegaskan bahwa akses bebas bagi pelayaran internasional harus dijaga sebagai bagian dari hukum laut internasional.

Pertemuan ini berlangsung di tengah upaya Iran untuk mengusulkan rencana penyelesaian konflik dalam waktu tujuh hari, yang disampaikan melalui perantara Qatar kepada pihak Amerika Serikat. Menurut keterangan resmi dari kementerian luar negeri Iran, jika semua syarat yang diminta terpenuhi, Selat Hormuz dapat kembali dibuka dalam jangka waktu singkat. Usulan tersebut menjadi bagian dari upaya diplomasi untuk menghentikan eskalasi militer dan memulihkan stabilitas maritim.

Guterres menegaskan kembali komitmen PBB terhadap semua inisiatif perdamaian yang berbasis pada dialog dan negosiasi. Ia menyoroti bahwa blokade terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz telah mengganggu aliran energi global, yang berpotensi memicu krisis ekonomi dan keamanan pangan di berbagai belahan dunia. PBB, menurut pernyataan resmi, tetap menjadi pihak netral yang mendukung proses diplomasi lintas negara.

Hingga saat ini, Amerika Serikat belum memberikan respons resmi terhadap usulan Iran. Namun, kejadian sebelumnya—serangan militer oleh AS dan Israel pada 28 Februari—telah memicu reaksi keras dari Teheran, yang merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap kawasan yang dianggap strategis. Aksi tersebut turut berdampak pada penutupan sementara akses Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya