Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 1,33% Didorong Tekanan Global dan Inflasi AS

Indeks saham domestik turun signifikan hari ini, dipengaruhi pelemahan sektor utama, inflasi AS yang melonjak, serta sentimen geopolitik dan kebijakan moneter global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 20x dibuka
IHSG Anjlok 1,33% Didorong Tekanan Global dan Inflasi AS📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan dengan penurunan tajam sebesar 1,33%, berada di level 5.863. Pergerakan negatif ini tercermin dari aktivitas pasar yang menunjukkan dominasi saham turun, dengan 592 emiten melemah, 252 stagnan, dan hanya 119 yang menguat. Volume perdagangan mencapai 306,62 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp10,25 triliun, menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi meski bergerak dalam arah negatif.

Penurunan indeks dipicu oleh tekanan dari sektor infrastruktur yang anjlok 4,6%, disusul energi turun 2,7% dan industri melemah 2,4%. Beberapa emiten kunci seperti Barito Renewables Energy (BREN), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Bank Central Asia (BBCA), Chandra Asri Pacific (TPIA), serta VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) menjadi pemberat utama. Di sisi lain, saham penopang seperti Amman Mineral (AMMN), Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), United Tractors (UNTR), dan Bank of India Indonesia (BSWD) mampu menahan koreksi lebih dalam.

Diluar faktor domestik, pasar keuangan Indonesia terdampak oleh perkembangan global. Inflasi AS pada September 2026 melonjak menjadi 3,7% secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Kenaikan ini didorong kenaikan harga bensin 34,2% dan minyak pemanas 74,2% secara tahunan, serta kenaikan bulanan IHK sebesar 0,6%, tertinggi sejak April 2026. Dampaknya, indeks dolar mencapai 102,555, level tertinggi sejak April 2025, yang berpotensi memperlemah rupiah dan mendorong arus modal keluar dari pasar berkembang.

Sentimen lain yang memengaruhi pasar datang dari perkembangan konflik di Yaman, di mana kelompok Houthi mengancam menyerang fasilitas minyak dan bandara Arab Saudi, memperburuk ketegangan geopolitik yang mengancam pasokan energi global. Di sisi lain, surplus perdagangan China pada September mencapai US$133,53 miliar, melonjak dari tahun sebelumnya, didorong ekspor yang naik 36,3% secara tahunan. Kenaikan impor China yang mencapai 31% juga menjadi sinyal positif bagi ekspor Indonesia, meski dampaknya masih terkendala oleh kebijakan moneter global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya