IHSG Anjlok 10,76% di Sesi I, Hanya 15 Saham Naik
Indeks saham utama turun tajam 630,78 poin atau 10,76% ke level 5.233, menyusul tekanan dari sektor infrastruktur dan energi, serta sentimen pasar akibat rencana klasifikasi MSCI.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 104x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Jumat (16/10/2026), berada di posisi 5.233,00, melemah 630,78 poin atau 10,76% dari level pembukaan. Pergerakan turun dimulai sejak sesi awal, saat indeks terbuka di 5.393,92, dan sempat menyentuh titik terendah harian di 5.193,22 sebelum rebound tipis ke level tertinggi harian 5.404,51. Volume perdagangan mencapai 380,08 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp16,51 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang intens namun cenderung negatif.
Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 15 saham yang menguat, sementara 809 saham mengalami penurunan dan 139 saham stagnan. Penurunan paling dalam terjadi pada sektor infrastruktur yang anjlok 14%, disusul material dasar turun 13% dan energi melemah 11%. Beberapa emiten kunci seperti BBCA, BBRI, BMRI, AMMN, dan TLKM menjadi pemberat utama penurunan indeks. Di sisi lain, saham-saham seperti BSWD, DNET, TRUK, ABDA, dan NICK turut berkontribusi pada koreksi pasar.
Sentimen pasar terdampak oleh informasi konsultasi MSCI mengenai perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Proses ini masih dalam tahap konsultasi publik, dengan masa tanggapan hingga 30 April 2027, dan keputusan akhir akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. MSCI menyatakan bahwa klasifikasi saat ini tidak lagi mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya, dengan alasan kekhawatiran terhadap investabilitas, transparansi kepemilikan saham, praktik perdagangan terkoordinasi, serta rendahnya efektivitas penegakan aturan.
Hingga kini, MSCI tetap menahan sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia, termasuk tidak menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF), tidak menambah saham baru ke dalam indeks investasi, dan menahan peningkatan posisi saham dalam segmen indeks. Rencana tersebut berpotensi memperkuat kehati-hatian investor asing terhadap aset lokal. Jika terjadi aliran keluar dana asing, permintaan terhadap dolar AS bisa meningkat, menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China
Di Glodok, Jakarta Barat, mayoritas kipas angin merek lokal dirakit dalam negeri, tetapi sebagian besar komponennya berasal dari China, didukung harga kompetitif dan kebutuhan industri.
24 Oktober 2026

Sepeda Listrik Diskon 50% di Transmart, Mulai Rp3,68 Juta
Transmart gelar diskon besar-besaran untuk sepeda listrik hingga 50% + 20% khusus pemegang kartu kredit tertentu, berlaku 25 Oktober 2025 di seluruh gerai.
24 Oktober 2026

BYAN Buka Suara Soal Transaksi Saham ke Jhonlin Baratama
Perseroan menyatakan belum ada perubahan pengendalian meski transaksi saham ke Jhonlin Baratama terjadi pada harga seragam Rp2.588 per saham.
24 Oktober 2026

BRI Perkuat Nilai Saham Lewat Buyback Rp1 Triliun
BRI resmi luncurkan program buyback saham tahap kedua senilai maksimal Rp1 triliun, berlangsung hingga Januari 2027, dengan tetap jaga kesehatan permodalan dan kepercayaan pemegang saham.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BYD Atto 1 Kuasai Pasar Mobil Listrik September 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.05 WITA

LCGC Mulai Tergerus, Industri Tawarkan Solusi Hybrid
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

Teknologi REEV Dorong Hemat BBM 65 Km Per Liter
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

Wall Street Picu Pelemahan Bursa Asia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.04 WITA

IHSG Melonjak, Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

IHSG Awal Perdagangan Naik 0,18% ke 5.397
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Tekanan Global Masih Menghantui
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

Bank Mandiri Bagi Dividen Rp50,63 Triliun dan Realisasi Buyback 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

