Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 10,76% di Sesi I, Hanya 15 Saham Naik

Indeks saham utama turun tajam 630,78 poin atau 10,76% ke level 5.233, menyusul tekanan dari sektor infrastruktur dan energi, serta sentimen pasar akibat rencana klasifikasi MSCI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 104x dibuka
IHSG Anjlok 10,76% di Sesi I, Hanya 15 Saham Naik📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Jumat (16/10/2026), berada di posisi 5.233,00, melemah 630,78 poin atau 10,76% dari level pembukaan. Pergerakan turun dimulai sejak sesi awal, saat indeks terbuka di 5.393,92, dan sempat menyentuh titik terendah harian di 5.193,22 sebelum rebound tipis ke level tertinggi harian 5.404,51. Volume perdagangan mencapai 380,08 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp16,51 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang intens namun cenderung negatif.

Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 15 saham yang menguat, sementara 809 saham mengalami penurunan dan 139 saham stagnan. Penurunan paling dalam terjadi pada sektor infrastruktur yang anjlok 14%, disusul material dasar turun 13% dan energi melemah 11%. Beberapa emiten kunci seperti BBCA, BBRI, BMRI, AMMN, dan TLKM menjadi pemberat utama penurunan indeks. Di sisi lain, saham-saham seperti BSWD, DNET, TRUK, ABDA, dan NICK turut berkontribusi pada koreksi pasar.

Sentimen pasar terdampak oleh informasi konsultasi MSCI mengenai perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Proses ini masih dalam tahap konsultasi publik, dengan masa tanggapan hingga 30 April 2027, dan keputusan akhir akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. MSCI menyatakan bahwa klasifikasi saat ini tidak lagi mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya, dengan alasan kekhawatiran terhadap investabilitas, transparansi kepemilikan saham, praktik perdagangan terkoordinasi, serta rendahnya efektivitas penegakan aturan.

Hingga kini, MSCI tetap menahan sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia, termasuk tidak menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF), tidak menambah saham baru ke dalam indeks investasi, dan menahan peningkatan posisi saham dalam segmen indeks. Rencana tersebut berpotensi memperkuat kehati-hatian investor asing terhadap aset lokal. Jika terjadi aliran keluar dana asing, permintaan terhadap dolar AS bisa meningkat, menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya