Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 11,12% ke Level 5.211 Akibat Tekanan Global dan Isu Domestik

Indeks saham acuan Indonesia turun tajam 11,12% menjadi 5.211,84 akibat tekanan inflasi AS, isu klasifikasi pasar oleh MSCI, dan sentimen geopolitik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 45x dibuka
IHSG Anjlok 11,12% ke Level 5.211 Akibat Tekanan Global dan Isu Domestik📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (16/10/2026), menyentuh level 5.211,84 pada pukul 09.34 WIB, melemah 651,94 poin atau 11,12% dari posisi pembukaan. Pelemahan dimulai sejak awal sesi perdagangan pagi, ketika indeks berada di 5.393,92 pada pukul 09.00 WIB, dengan penurunan 8,01%. Pergerakan negatif terus berlanjut hingga menyentuh titik terendah di 5.193,22, sementara level tertinggi sesi pagi berada di 5.404,51. Volume perdagangan hingga pukul 09.34 WIB mencapai 85,6 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp3,15 triliun.

Kemerosotan pasar didorong oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. Di tingkat global, data inflasi harga produsen (PPI) AS yang melonjak 1,3% secara bulanan pada September 2026 menjadi sorotan utama. Angka tersebut merupakan kenaikan tertinggi sejak Maret 2022 dan jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,5%, dengan inflasi tahunan mencapai 6,3%, level tertinggi sejak Desember 2022. Kenaikan harga jasa dan biaya transportasi, termasuk tarif penerbangan yang melonjak 5%, menambah tekanan terhadap sentimen pasar global.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap stabilitas pasar modal domestik meningkat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi untuk mereklasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan final ditargetkan pada 30 Juni 2027. MSCI menyatakan belum melihat kemajuan signifikan dalam transparansi kepemilikan saham, praktik perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas penegakan aturan. Sebagai respons, MSCI mempertahankan pembekuan peningkatan FIF, jumlah saham, dan penambahan saham ke indeks utama, termasuk MSCI Indonesia Investable Market Index.

Sentimen pasar juga terdampak oleh konflik di Yaman, di mana serangan rudal dan drone oleh kelompok Houthi menargetkan kompleks Istana Presiden Al-Maashiq di Aden, Kamis (15/10/2026), menewaskan lima orang dan melukai 16 lainnya. Meskipun pemerintah Yaman menyatakan perdana menteri dan sejumlah menteri selamat, insiden ini menambah ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar keuangan global. Di dalam negeri, isu reshuffle kabinet turut memicu ketidakpastian di pasar, menyusul spekulasi mengenai perubahan struktur kebijakan ekonomi.

Sementara itu, diskusi antara Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam acara IMF-World Bank di Bangkok, Thailand, menjadi perhatian utama pelaku pasar. Sesi yang dijadwalkan pukul 10.30 WIB dinilai berpotensi mengungkap arah kebijakan moneter global, terutama terkait suku bunga AS dan tekanan inflasi. Pernyataan Warsh diharapkan menjadi petunjuk penting bagi pasar keuangan Indonesia, terutama dalam menilai risiko arus modal keluar dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya